Pembelajaran dan Pendewasaan

Perjalanan saya ke Eropa selama 5 bulan membawa banyak perubahan pada diri saya. Berasal dari keluarga yang konservatif dan orangtua yang kelewat protektif membuat mereka khawatir ketika akan mengizinkan saya pergi keluar negeri seorang diri. Tapi ya, keteguhan niat saya sudah tidak bisa dibendung lagi, berbagai nasihat pun diberikan menjelang kepergian saya.

Setibanya saya di Perancis, saya sudah merasakan jiwa petualang saya menyeruak kembali ke permukaan. Perasaan ingin tahu dan ingin mencoba ini itu rasanya hampir tak tertahankan. Saya tidak sempat merasa kesepian dengan absennya mahasiswa Indonesia di kampus saya, SKEMA Business School, mengingat akan merupakan suatu kesia-siaan bila saya hanya mengunci diri di dalam kamar. Di Perancis, perlahan-lahan saya berusaha meninggalkan sifat khas orang Asia yang cenderung kolektif dan melakukan hampir semua aktifitas bersama-sama. Saya menjadi lebih individualis yang berusaha sesedikit mungkin bergantung pada orang lain. Saya ingin mandiri.

Setiap hari adalah petualangan. Selalu ada pengalaman baru yang saya dapatkan. Tidak melulu bagus, terkadang juga saya mengalami peristiwa yang membuat saya sedih, miris, galau, tapi saya bertekad untuk tidak berlarut-larut dalam segala bentuk kesedihan karena demi Tuhan, saya sedang di Perancis, negara impian puluhan juta orang, dan daripada saya menggalau, oh, masih ada banyak orang yang rela bertukar tempat dengan saya. Saya berusaha meyakini segala sesuatu pasti terjadi karena sebuah alasan. Yeaaa, I became so positive there, in France.

Pelan tapi pasti, saya menjadi lebih berani dari hari ke hari. Saya gemar menyusuri jalan-jalan di kota saya, Lille, untuk melihat dan mengenal sekeliling, berhenti di salah satu anak tangga di teras sebuah bangunan tua hanya untuk menyesap air minum dan melahap crepes, atau mungkin hanya duduk mematung sambil melihat orang berlalu lalang. Apakah saya tidak takut hilang atau tersasar? Oho, jangan salah, saya adalah orang yang buta arah, tidak dapat membedakan mana utara selatan, layanan Blackberry saya pun tidak saya aktifkan disana sehingga saya hanya mengandalkan hape tua saya yang tidak dilengkapi layanan internet bila saya tersasar. Pernah suatu waktu ketika saya sedang di Metro (kereta bawah tanah di Perancis) saya berulangkali mengecek dengan gugup apakah saya sudah menuju arah yang benar. Tapi saya berusaha untuk tampil (sok) tenang agar penumpang lain tidak melilhat kegugupan saya. Lega rasanya ketika bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Kadar keberanian dan kepercayaan diri saya meningkat dengan ajaib di bulan kedua saya di Perancis. Hal itu dipicu dengan telah terbitnya Residence Permit saya yang mengizinkan saya untuk berkeliling negara Eropa dengan aman. Sekedar informasi, untuk orang yang akan tinggal di Perancis lebih dari 3 bulan, diwajibkan untuk membuat Residence Permit ini, jika anda berniat tinggal kurang dari 2 bulan, cukuplah mendaftar visa Schengen saja.

Residence permit sudah di tangan, saya pun memulai perjalanan berkeliling Eropa untuk mengunjungi teman-teman saya yang tersebar di sana. Hampir di setiap perjalanan saya selalu pergi sendiri, tetapi pasti sudah ada tim penyambut di negara yang saya tuju. Bepergian sendiri membuka banyak perspektif baru dalam diri saya. Masih segar dalam ingatan saya, ketika saya harus berlari kesetanan untuk mengejar shuttle bus yang sudah akan berangkat. Setibanya di dekat bus saya pun mengetuk pintu bus dengan muka memelas dan nafas memburu, untung saja si pengemudi membukakan pintu bus dan mempersilahkan saya masuk. Di dalam bus saya tertawa tertahan mengingat aksi konyol yang saya lakukan sebelumnya. Saya, si gadis mungil dengan tinggi tak sampai 155cm berlari-lari menggebah pejalan kaki lainnya sambil menyeret koper demi dapat mengejar shuttle bus ke arah bandara.

Peristiwa paling menakjubkan yang mengubah pola pikir saya terjadi pada bulan Januari 2012, ketika saya akan melakukan perjalanan ke Swedia. Saya menggunakan maskapai penerbangan murah, Ryan Air, yang mengharuskan saya untuk berangkat dari bandara Charlesroi di Brussels, Belgia pada jam 7 pagi. Tunggu sebentar, saya ada Perancis, tapi kenapa saya berangkat dari Belgia? Well, begitulah Ryan Air, tidak semua negara mempunyai penerbangan yang sama. Bila saya ingin ke Swedia dari Perancis, saya harus ke Paris terlebih dahulu. Dan bandara di Paris yang digunakan oleh Ryan Air bukanlah bandara utama Charles de Gaulle yang terletak di kota, melainkan bandara Bauvais yg terletak di pelosok Paris. Biaya yang saya gunakan dari Lille ke Paris Bauvais bisa saja lebih mahal dari tiket saya ke Swedia. Jadilah saya memutuskan terbang dari Brussels yang tidak jauh dari Lille.

Ketika melihat jadwal kereta pagi, saya baru sadar bahwa saya tidak akan mungkin dapat mengejar ke bandara. Kereta paling pagi berangkat sekitar pukul 6 dan akan sampai di Brussels pada pukul 7. Padahal saya harus sudah ada di bandara satu jam sebelumnya untuk mengurus tetek bengek di bandara. Jadilah saya mengambil kereta paling malam ke Charlesroi dan memutuskan untuk menghabiskan malam di stasiun kereta sambil menyesap susu hangat (saya bukan penikmat kopi) dan membaca majalah di salah satu kafe di stasiun Charlesroi.

Kereta yang saya tumpangi dari Lille amat sangat sepi. Hanya ada 3 orang di gerbong yang saya naiki, dan bisa ditebak, sayalah satu-satunya perempuan di gerbong itu. Ketika kondektur kereta datang dan memeriksa karcis saya, saya meminta agar saya diperingatkan ketika saya akan sampai di tempat tujuan, tak dinyana seorang bapak di gerbong tersebut ternyata juga akan turun di tempat yang sama. Berkali-kali saya menjaga diri agar tidak terlelap dan kebablasan pemberhentian. Saya terus menerus berusaha melihat keluar setiap kali kereta berhenti untuk menghitung berapa pemberhentian lagi sebelum tujuan saya.

Pukul 23.45 saya tiba di stasiun kereta Charlesroi bersama sekitar 6 penumpang yang lain (termasuk si bapak baik hati yang membantu menurunkan koper saya). Saya pun melongo melihat stasiun yang gelap dan kosong melompong tanpa ada toko atau kafe yang buka. Penumpang-penumpang lain yang tadi turun bersama saya bergegas keluar stasiun, saya pun mengikuti mereka sembari setengah berharap saya akan menemukan salah satu penumpang yang berniat menghabiskan malam di stasiun, ternyata harapan saya itu tidak terkabul. Saya mengecek jadwal bis selanjutnya yang akan membawa saya ke bandara, ternyata bis baru akan tersedia pukul 5 pagi. Kepanikan mulai menggelegak, saya mencegat salah satu petugas stasiun dan bertanya apakah ada hotel atau kafe atau restoran yang buka di dekat stasiun, dengan mata menyipit dan melihat jam tangannya beliau pun berkata “je crois que non mademoiselle, le gare sera ouvert a 04h00” – saya rasa tidak ada nona, stasiun ini akan buka kembali nanti pada pukul 4—dan si petugas tadi pun berlalu meninggalkan saya seorang diri.

Saya melihat sekeliling dengan bingung dan panik, berbagai macam cerita kejahatan seperti perampokan, pembunuhan dan perkosaan berputar di kepala saya. Saya pun akhirnya memutuskan duduk di anak tangga yang tersembunyi dan paling dekat dengan kamera pengawas untuk menghindari tindak kejahatan yang mungkin terjadi. Saya bisa saja ke bandara naik taksi, namun setelah mengintip dan melihat sopir-sopir taksi berwajah seram, saya pun memutuskan menunggu pagi di stasiun. Sendirian.

Waktu 4 jam terasa berlalu sangat lambat. Untung saja saya membawa buku bacaan untuk menjaga saya tetap waras selama penantian yang terasa berabad abad. Rasa kantuk di kereta mendadak hilang digantikan adrenalin yang memaksa saya untuk terus waspada. Saya pun berusaha berkirim pesan kepada teman-teman saya di Indonesia, dengan asumsi mereka sudah bangun karena saya yakin saat itu sudah pagi di Indonesia. Sayang sekali hanya sedikit yang membalas dan bertukar pesan dengan saya. Saya pun hanya ditemani sebuah novel dan bunyi kereta yang melintas di stasiun. Setiap 45 menit sekali saya bangkit dan berjalan-jalan sekedar untuk melemaskan kaki. Rasanya saya sudah membaca habis semua iklan dan jadwal keberangkatan kereta di papan pengumuman kala itu.

Pukul 2 pagi, saya mendengar langkah kaki mendekat, saya pun merapatkan diri ke tembok tempat saya bersembunyi, sambil mengintip sedikit demi sedikit, ternyata itu adalah tukang Koran yang meletakkan korannya di stasiun. Kepala saya pun muncul dari balik tembok ketika saya menyapa si loper koran. ‘Bonjour’ sapa saya dengan senang melihat adanya tanda-tanda kehidupan. Si loper koran pun terkejut melihat kehadiran saya dengan pakaian ala gadis eskimo, lengkap dengan penutup telinga saya. Dia pun bertanya apa yang saya lakukan di stasiun pada pukul 2 pagi, ketika saya menjawab saya menunggu bis ke bandara, dia membalas memandang saya dengan iba, dia pun mengajak saya untuk berkeliling stasiun guna mengedarkan koran-koran. Dengan halus saya menolak, bukan karena saya takut, tapi saya membawa koper yang akan merepotkan untuk naik turun tangga. Si loper koran pun berlalu setelah meminta saya berhati-hati dalam menunggu pagi.

bersama Vidya di Jonkoping, Swedia

 Pukul 4 pagi pun akhirnya tiba juga, hati saya membengkak dua kali lipat ukuran aslinya melihat televisi layar datar yang berisi jadwal keberangkatan mulai menyala. Perlahan tapi pasti, saya membereskan ‘markas’ saya dan menuju ke pintu stasiun untuk menunggu bis yang akan mengantar saya ke bandara. Di halte bis saya melihat orang-orang yang diturunkan oleh keluarganya untuk menunggu bis ke bandara. Saya pun menyunggingkan seulas senyum kepada mereka karena saya merasa sangat bangga bisa bertahan seorang diri di stasiun selama 4 jam. Pelajaran yang dapat saya petik adalah stasiun di Eropa itu tidak sama dengan di Indonesia yang meskipun tidak buka 24 jam, tetapi akses ke peradaban sangat melimpah. Saya tidak mau lagi menginap di stasiun di Eropa 😀

Sani, si panitia penyambut

Hidup di negeri orang tidak melulu susah. Memang benar kata pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita harus pintar beradaptasi dan berpikiran terbuka. Saya masih menyimpan banyak kisah life-changing ketika saya di Eropa. Mungkin saya akan membaginya di lain kesempatan kepada para pembaca. Oh, sekedar ingin tahu, apakah anda menyukai gaya menulis saya dalam bahasa Indonesia? Mengingat saya lebih banyak memposting dalam bahasa Inggris. Terima kasih, selamat berhari Senin semuanyaaa J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s