Bukan Sekedar Kartu Biasa

Selamat siang semuaaa, apa kabar? Jangan bosan yaa membaca postingan saya lagi, ini saya sedang berada dalam mood menulis yang tinggi loh, jadi yaaaa, saya akan memanjakan *tsaaah* kalian dengan tulisan-tulisan saya. Apa siiih yang tidak untuk kalian? 😀 Jadi begini, dalam kehidupan profesional sekarang, hampir semua orang akan memiliki kartu nama atau kartu bisnis. Well, meskipun tujuan dari kartu nama tersebut berbeda-beda sih, dari yang untuk menjalin relasi hingga untuk sekedar eksis 😀 Sebenarnya banyak loh makna dari kartu nama atau kartu bisnis tersebut:

¢  Merupakan personifikasi diri Anda pada sebuah objek.

Dengan kartu bisnis yang tepat, maka orang-orang akan dengan mudah mengetahui dan mengingat siapa diri anda dari kartu bisnis tersebut. Disini kartu bisnis dapat membantu untuk mengenal anda lebih mendalam meskipun tanpa melakukan perkenalan yang akrab.

¢  Bukan desain, teknik, material, maupun bentuk objek tersebut, melainkan seberapa baik objek itu menyampaikan pribadi dan brand anda.

Maksud dari kalimat di atas adalah kita tidak perlu memikirkan desain , teknik dan objek yang sangat rumit dan canggih dalam membuat kartu bisnis kita. Kita tentu menginginkan bahwa penerima kartu bisnis kita dapat mengerti makna yang tersurat di dalam kartu bisnis kita. Akan sangat sia-sia bila biaya dan tenaga yang telah kita keluarkan tidak membawa hasil yang kita harapkan.

¢  Konsep dan ide awal merupakan hal pokok yang harus Anda bentuk sendiri.

Originalitas sangat diperlukan disini. Semakin original dan unik ide awal dan konsep kartu bisnis anda, maka hasil yang anda capai akan semakin mengesankan. Hal ini mungkin terdengar sangat rumit karena membutuhkan kreativitas kita dalam menemukan suatu konsep yang baru. Bukan tidak mungkin bila kita tergoda untuk menjadi plagiat dengan meniru suatu konsep milik orang lain agar mendapat hasil yang instan. Namun dewasa ini, orang-orang sudah semakin jeli dan dapat mengidentifikasi  keoriginalitasan suatu ide. Yakinlah bahwa buah ketekunan anda dalam memikirkan konsep dan ide awal suatu kartu bisnis akan terbayar dengan memuaskan.

kargo

Gambar 1: Perusahaan Kargo ini alih-alih membuat kartu bisnis dengan bentuk yang konvensional, mereka justru membuat kartu bisnis dengan bentuk yang sangat unik, yaitu berbentuk seperti kardus yang dilengkapi dengan logo ala paket kiriman.

1. Mengembangkan ide dan konsep

¢  Siapakah Anda?

Ambilah suatu contoh, misalnya anda adalah seorang pengusaha sushi. Nah dari kartu bisnis, anda pasti ingin menampilkan citra anda sebagai seorang pengusaha yang mencintai sushi.

kaset

Gambar 2: Sebuah recording company menggunakan kaset sebagai kartu bisnis mereka. Sangat meaningful dan menampilkan pencitraan yang sangat sesuai.

¢  Apa selling point Anda? – Keunikan dan kelebihan Anda dibanding orang lain.

Masih terkait dengan contoh diatas, sebagai seorang pengusaha sushi tentu kita akan menjual sushi. Nah di kartu bisnis, anda dapat mencantumkan atau menggambarkan produk sushi yang menjadi unggulan anda , misalnya anda memiliki Nagoya Sushi Fussion sebagai produk unggulan anda.  Dengan mencantumkan minimal gambar dari Nagoya Sushi Fussion tersebut di kartu bisnis anda tentu akan mempermudah para penerima  kartu bisnis untuk mengintrepretasi kartu bisnis anda.

¢  Pesan apa yang  ingin Anda sampaikan melalui kartu bisnis tersebut?

Pesan yang dapat disampaikan melalui kartu bisnis anda (masih terkait dengan contoh diatas) adalah sebagai seorang pengusaha sushi yang tidak sekedar berjualan saja tetapi memiliki kecintaan yang lebih. Hal ini dapat ditunjukkan dengan penciptaan resep sendiri. Dengan tidak meniru milik orang lain. Selain menunjukkan kecintaan terhadap sushi juga adanya kreatifitas yang tinggi. Menciptakan menu yang berbeda itu bukan hal yang mudah, maka penerima kartu yang jeli akan bisa membaca pesan-pesan tersebut.

2. Informasi yang tercantum

¢  Nama jelas Anda

Di kartu bisnis nama jelas yang harus dicantumkan tidak melulu harus nama lengkap anda. Misal Kurnya Kusuma Dewy 😀 Tetapi disini anda dapat mencantumkan nama jelas sebagai nama panggung, atau bahkan nama perusahaan. Ini semua tergantung branding apa yang ingin anda perkenalkan kepada para penerima kartu bisnis.

¢  Siapa  Anda

Bagian siapa anda disini dapat diisi dengan pekerjaan anda atau posisi anda di dalam perusahaan. Namun bagian ini merupakan sesuatu yang opsional. Dapat diisi atau tidak. Hal ini tergantung dari objek (kartu bisnis), apakah sudah dapat merepresentasikan atau memberi informasi tentang siapa kita Misal, terkait dengan pengusaha sushi dengan pencantuman gambar sushi atau membentuk kartu bisnis kita sehingga mirip sushi, maka tidaklah penting bagi anda untuk mencantumkan siapa anda, karena sudah jelas bahwa anda adalah seorang pengusaha sushi.

amundson

Gambar 3: Sebuah perusahaan pembuat film mendesain kartu bisnis berbentuk tiket bioskop. Dengan harapan, setiap si penerima menerima tiket bioskop akan otomatis teringat pada perusahaan Amundson ini.

¢  Contact Information : preferred method of contact

Umumnya, dalam membuat kartu bisnis, kita mencantumkan banyak kontak yang dapat kita gunakan untuk menghubungi kita. Misalnya selain mencantumkan nomor telepon kantor, kita juga mencantumkan nomor telepon rumah, nomor telepon genggam, alamat email hingga website. Nah sebenarnya pencantuman begitu banyak kontak justru memakan banyak ruang dan membingungkan pembaca. Sebaiknya cantumkan saja di kontak mana kita lebih ingin dan lebih nyaman dihubungi.

Pemilihan pencantuman kontak juga mencerminkan siapa kita sebenarnya. Misal, pencantuman email atau website sebagai kontak menunjukkan bahwa kita merupakan pribadi yang melek dan mengikuti perkembangan teknologi.

search

Gambar 4: Nathan Smith tidak mencantumkan banyak details di kartu bisnisnya, tetapi kita sebagai penerima kartu tersebut sudah dapat melihat siapakah seorang Nathan, dimana dia bekerja dan brand perusahaan tempat Nathan bekerja.

¢  Personal Logo dan Personal Brand / Statement

Kedua hal ini juga bukan merupakan hal yang wajib dicantumkan dalam kartu bisnis, bergantung sudah cukupkah objek dari kartu bisnis kita untuk menjelaskan logo dan brand kita.

3. Eksekusi Ide

¢  Desain yang mendukung isi pesan: form follow function.

Kembali ke contoh pengusaha sushi. Kita sudah memiliki pesan bahwa kita adalah seorang penjual sushi yang ingin menjual sushi kita dengan menonjolkan Nagoya Sushi Fussion sebagai produk unggulan kita. Untuk mengeksekusi ide tersebut, kita dapat membuat kartu bisnis berbentuk pin dengan gambar Nagoya Sushi Fussion kita atau gantungan kunci berbentuk sushi. Hal ini merupakan pengimplementasian dari bentuk yang mengikuti fungsi (form follow function), kita memiliki fungsi atau idenya terlebih dahulu baru menciptakan bentuk dari kartu bisnis kita setelahnya.

lush

Gambar 5: Ide perusahaan Lush yang bergerak di bidang gardening dalam mendesain kartu bisnis patut diacungi jempol. Mereka tidak hanya membuat kartu bisnis yang unik, namun juga memberikan sampel dari produk perusahaan mereka.

¢  Investasi pada designer yang baik, yang mampu mengeksekusi ide Anda.

Untuk memaksimalkan manfaat dari kartu bisnis, alangkah baiknya bila kita tidak asal menyerahkan proses pembuatannya kepada sembarang designer atau pencetak kartu bisnis. Lebih baik kita menunjuk designer yang memiliki kemampuan yang handal. Tidak perlu khawatir dengan harga yang akan lebih mahal dari pembuatan kartu bisnis konvensional. Itu semua akan terbayar bila kita mendapat klien yang banyak  atau proyek yang besar. Bila kita ingin menangkap ikan yang besar tentu kita membutuhkan umpan yang besar juga.

¢  Investasi pada material yang baik dan berkualitas.

Penggunaan material dalam pembuatan kartu bisnis tidak dapat dipandang remeh. Kita sebisa mungkin harus menggunakan material atau bahan yang berkualitas. Material disini tidak hanya melulu berupa material yang tahan lama, namun material yang dapat merepresentasikan dan menginformasikan pesan dan brand kita dengan baik. Material ini sebaiknya kita pilih dari kualitas terbaik. Hal ini akan mencerminkan perhatian yang kita berikan kepada diri, klien, pekerjaan, dan hal yang kita senangi.

matilda

Gambar 6: Kartu bisnis perusahaan Matilda Jane sangat memperhatikan detil dan menggunakan material yang tidak sembarangan. Adanya jahitan di kartu bisnis tersebut akan member kesan mendalam bagi si penerima kartu bisnis Matilda Jane.

Kartu bisnis sering dianggap sebagai hal yang biasa saja. Sehingga dalam pembuatannya banyak perusahaan ataupun individu yang berusaha menekan biaya semurah mungkin.  Hal itu perlu dihindari karena kartu bisnis merupakan hal yang sangat esensial selain sebagai media promosi juga sebagai media pertama untuk membangun first impression. Kartu bisnis ini adalah investasi yang sangat valuable mengingat cost nya yang relatif murah dan berbanding dengan peluang nilai proyek dari hubungan bisnis yang tercipta.

Monetary and Fiscal Policies in Indonesia

Heyho peeps, i’m in the mood for something brainiac, and that brainiac thingy that crossed my mind was my master study. So, here it is, my mini paper in General Business Environment in fiscal monetary section 🙂

FISCAL AND MONETARY POLICIES IN INDONESIA

KKD

The volatile price of a product in a market is becoming usual in our daily life. The price volatileness was caused by human intervention. The intervention was purposed to develop the economy to be better. The development of economy can be beneficial for the society.

In the volatile and uncertain economic condition, people tend to seek the best business that will be able to survive during that condition. In 1998, Indonesia experienced an economic crisis which caused the rise of inflation rate. Everything became expensive and non affordable for the society. Thus, the government tried to stimulate the economic growth by enacting friendly policies that would bring back the investment. Those steps taken by the government were responded enthusiastically by the business player in Indonesia. The government had intention to do such intervention in order to make the economy became dynamic again. Actually, the economic downturn was like a double-eyed knife, it could decline the company performance or it can boost the performance for the party that can see the opportunity in this condition, such as the insurance company which will be easier to sell its product.

indonesia-inflation-chart

In a micro level, it is desirable for a country to have a smooth growth inside. The smooth growth will be preferred by the investors regarded the low risk that will they bear. As we know China is a country with highest economic growth. In July 2011, the second quarter of China growth reached 9.5 percent[i].  The economic growth forced the Chinese government to conduct tight monetary policy to control inflation. This smoothing phenomenon also occurred in the company. A volatile growth which combined the great leap and great decline would definitely scare out the investor and stakeholders. The more stable the growth, the less worried the investor will be.

To control the economy, the government usually conducts the fiscal policy. One of the fiscal policies is the state budget (APBN). The arrangement of APBN was based on several factors, such as: the government project (the investor thus can see the business opportunity by seeing what kind of projects run by the government), the tax rate (especially the corporation tax), and the prediction of gasoline price. Below is the goal of conducting fiscal policy:

  • To maintain the macro-economy stability or inflation
  • To allocate government fund
  • To distribute the income

The realization of fiscal policy in Indonesia was never be the same and certain through the years. In the Old Order era, Soekarno was known with his fiscal policy related with denomination and huge amount of money print. Due to that policy, there was excessive money distributed through the society which rose the inflation into 600 percent. In the New Order era under Soeharto, Indonesia applied the balance budget method which succeed in awakening Indonesian economy. At that time, Indonesian economic performance was great and in its golden age. Unfortunately, the large amount of foreign debt proportion ruined the economic stability and even forced Soeharto to step down from his position as President in 1998.

Recently, the focus of fiscal policy is related with the gasoline price estimation and the tax rate. Tax itself is the most important income source for a country. The source of tax is different from one to other countries, for a small or newly independent country the tax income is coming from the foreign trade tax, the developing country generated tax income from the internal business inside the country, meanwhile the developed country already seek the tax income from the individual in the country.

Since corporate tax is very crucial factor in running the business, there were a lot of tax dispute related to this issue. The west-European countries like England and Germany are experiencing 40% to 60% tax in their countries. Although the economic stability in such countries like England is good, but the tremendous tax rate will make the investor and the business player there to reconsider their decision in having a business in high tax countries. In answering that matter, small and new born countries in Eastern Europe like Estonia posses zero tax rate policies. The policy was made by Estonian government to attract many investors to enter Estonia. As a new-born country which has limited resources, it is very essential for Estonia to get a lot of fund to build more infrastructures and building a stable business climate. Zero tax rate policies then stimulate other European countries to change their tax policies. The progressive rate methods then modified into flat tax rate policies. Many countries including Indonesia were also influenced by the tax-rate change wave. The tax rate competition among countries is very tight, the five percent difference only will able to bring a big impact towards the business inside the country.

Fiscal policy has many influences towards a nation economic stability. Fiscal policy in Indonesia was created based on the law (Undang-undang – UU) which has one year valid time. The policy then will be used as the guideline in Indonesian business for a year, except there is any change related to the policy. Due to the rigidness, the business players only need to pay deep attention at the announcement of fiscal policy. Meanwhile, the monetary policy in Indonesia was reflected in the SBI rate. Thus, the business players and economic analysts have no other choice but pay attention in this rate due to the independent nature possesed by Indonesian Central Bank (BI). The rise of SBI rate will trigger the rise of credit rate as well. The volatileness of monetary policy force the government to use assumption, such as the global gasoline price, SBI and credit rate, for the decision making.

Monetary policy usually used for maintain the internal and external stability which related with the domestic currency and trade balance. The focus of domestic currency stability is low inflation rate and stable exchange rate. Monetary policy has two branches: demand management and monetary targetry. The chain process from this policy was started from this following: monetary policy -> monetary system -> interest rate -> economic activity.

In 2008, Indonesian Central Bank was lowering the interest rate in order to anticipate when the condition turned into worst. Fortunately, Indonesia did not get much impact from the global economic crisis in that year. From the explanation and example above, we can simply presume that a government should pay attention profoundly related with the economic condition in Indonesia. When there is a bad sign, the government then will be able to intervene in the right time.

Source:

Sri Adiningsih powerpoint slides. (2011). Fiscal and Monetary Policies.

[i] Metro TV News. (2011). Pertumbuhan Ekonomi China 9.6 Persen. Retrieved July 20, 2011, from http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/14/132054/Pertumbuhan-Ekonomi-China-9-6-Persen