Menggantang Asa bersama Kemlu (part 1)

Memasuki Kementerian Luar Negeri (Kemlu) merupakan salah satu cita-cita saya sejak saya duduk di bangku SMA. Awalnya motivasi saya ingin bergabung dengan Kemlu adalah karena saya menganggap menjadi diplomat itu sesuatu yang keren dan susah ditaklukkan, sehingga membuat darah muda saya menggelegak. Namun seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa dengan menjadi diplomat, saya akan memiliki akses yang lebih terhadap Indonesia di luar negeri. Saya ingin mengubah persepsi masyarakat luar mengenai Indonesia. Meskipun kini Indonesia merupakan salah satu negara yang tengah berkibar, masih banyak pihak diluar sana yang menganggap Indonesia merupakan negara terbelakang, miskin, bar-bar, dan sarang teroris. Citra-citra negatif tentang Indonesia itulah yang ingin saya luruskan agar Indonesia dapat semakin dikenal dan diperhitungkan di kancah internasional.

Pada tahun 2009, selepas saya menyelesaikan pendidikan sarjana saya di Universitas Gadjah Mada, saya pun memutuskan untuk mengikuti seleksi Kemlu. Tahap demi tahap pun berhasil saya lewati. Saya pun merasa yakin dan percaya diri bahwa saya akan diterima di Kemlu. Namun, pada saat tes wawancara terakhir, saya mendadak blank dan tidak dapat menjawab pertanyaan pewawancara dengan baik, saya pun lebih banyak diam dan tersenyum ketika menerima pertanyaan. Seusai tes, saya pun melangkah keluar ruangan dengan gontai, saya percaya bahwa saya tidak akan lolos seleksi Kemlu dengan performa saya tadi. Benar saja, sebulan kemudian, saya mendapati bahwa saya tidak lulus seleksi. Fakta itu cukup menghantam saya dengan telak, namun akhirnya saya memutuskan untuk tidak berlama-lama bermuram durja. Setelah kontrak kerja saya di suatu lembaga bahasa inggris selesai, saya pun memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan S2 saya di MM UGM.

Setelah lulus dari MM UGM pada tahun 2012, saya pun mendaftar ke berbagai perusahaan dan instansi pemerintah, termasuk Kemlu. Kedua orang tua saya menyarankan saya untuk tidak kembali mencoba Kemlu mengingat kegagalan saya di tahun 2009 yang lalu. Keluarga dan orang-orang di sekitar saya mengatakan akan mustahil diterima di Kemlu bila kita tidak memiliki koneksi dengan orang dalam Kemlu. Pun bila ingin diterima di Kemlu, kami harus membayar sejumlah uang sebagai “tiket masuk”. Namun, saya tetap kembali mendaftar ke Kemlu sembari berjanji pada diri saya sendiri bahwa bila saya kembali gagal lolos pada seleksi kali ini, saya tidak akan mencoba mendaftar Kemlu lagi.

Pada awal-awal mengikuti tes, saya ingat betapa rempongnya persyaratan yang harus dibawa. Persiapan itu berhasil membuat saya dan keluarga saya (terutama mama) kelabakan. Persyaratan yang paling menguras tenaga adalah ketika kami harus membawa dokumen-dokumen seperti Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKCK), Kartu Kuning, dan Surat Keterangan Sehat dari dokter. Masih segar di ingatan saya ketika saya harus mengantri panjang demi mendapatkan ketiga surat sakti tersebut. Ternyata, yang mencari ketiga dokumen tersebut tidak hanya saya, banyak orang-orang lain yang berusaha mencarinya demi mencari pekerjaan. Bagi saya, pemenuhan persyaratan pendaftaran Kementerian Luar Negeri sudah merupakan proses seleksi mengingat banyaknya dokumen yang harus disertakan dan berbagai pernik-pernik tambahan lainnya. Oh ya, ada tips yang ingin saya berikan terkait pendaftaran dan printilannya, yaitu lengkapilah semua persyaratan yang diminta dan aturlah dokumen-dokumen tersebut sesuai urutan. Tidak perlu berimprovisasi dan menyertakan dokumen-dokumen yang tidak diminta. Salah satu teman saya menyertakan legalisir ijazahnya dari ketika dia SD hingga kuliah, padahal yang diminta hanyalah ijazah pendidikan terakhir saja. Cerita akhirnya pun dapat ditebak, teman saya itupun tidak lolos seleksi administrasi Kemlu. Tidak lolos suatu seleksi hanya karena hal-hal sepele dan tidak substantif itu cukup menyesakkan loh, oleh karena itu, tepati semua persyaratannya ya 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Menggantang Asa bersama Kemlu (part 1)

  1. danang says:

    Selamat siang, perkenalkan saya danang, HI UGM 2008 lulus 2013 ini. Jika tahun 2013 ini ada pendaftaran CPNS kemlu saya InsyaAllah akan daftar. Maka dari itu saya mau tanya, dulu mbak, kartu kuningnya kemnakertrans buatnya dimana di kemnakertans pusat atau cukup di dinas nakertrans kabupaten/ kota. Terima kasih, soalnya saya mau persiapan jauh- jauh hari.

  2. andy says:

    kemlu adalah cita” saya dari SMP. melihat teman dan keluarga yang sudah bekerja di kemlu membuat ku iri untuk menjadi kemlu..
    saya baru lulus SMA,baru ingin daftar kuliah, doakan saya yah agar saya juga bisa menjadi diplomat, saya mau tanya apakah hanya universitas terkemuka saja yang di terima di kemlu? apakah ada universitas yg swasta yang di terima di kemlu?

    • nayabella says:

      halo Andy, iya pasti didoakan kok. Mengenai asal Universitas, pada rekrutmen Kemlu, tdk hanya universitas negeri saja, namun lulusan dari universitas swastta juga dapat mendaftar kok 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s