Menggantang Asa Bersama Kemlu (part 2)

*ini adalah post lanjutan dari post sebelumnya tentang awal mula saya diterima di Kementrian Luar Negeri (Kemlu)*

479834_475084859213160_794899450_nPaska dinyatakan lulus seleksi administrasi, saya pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes tertulis di PRJ Kemayoran. Sesampainya saya di bandara, saya terkejut mendapati salah satu senior saya di bangku kuliah, Paulina, ternyata sedang berada di bandara juga untuk mengikuti tes Kemlu sama seperti saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menghampiri Paulina yang berada di terminal berbeda dengan saya. Ketika saya menaiki shuttle bus, saya mendengar nama saya dipanggil dan saya pun kembali terkejut melihat ada Ardhin, senior saya di kampus, yang juga akan ikut tes tertulis Kemlu. Merasa heran akan kebetulan tersebut, kami bertiga pun bersepakat untuk saling mengontak bila kami lolos ke tahapan-tahapan selanjutnya. Seleksi demi seleksi pun kami lewati, dan kami pun terus lolos hingga ke tahap terakhir. Malam sebelum tes wawancara substansi, kami bertiga berkumpul di kediaman Ardhin untuk belajar dan membahas isu terkini bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana kami mengkondisikan kamar layaknya suasana tes wawancara.

734973_470362719685374_413210043_n

Paulina, saya, dan Ardhin

Paska menghadapi rangkaian tes terakhir, panitia memberi tahu kami bahwa pengumuman hasil seleksi akan diberitahukan dua minggu dari hari tes. Mengingat tes diselenggarakan pada pertengahan November, kami pun berasumsi bahwa sebelum berganti bulan kami telah dapat mengetahui status kelulusan kami. Hari berganti hari, hampir setiap hari saya mengecek website Kemlu untuk melihat hasil kelulusan, namun berita bagus yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung hadir. Sekitar tiga minggu paska tes, saya dan Ardhin sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan di Yogya. Tiba-tiba saya mendapatkan pesan bahwa hasil ujian sudah dapat dilihat di website. Sontak saya memberitahu Ardhin dan kami berdua mengecek hasil bersama-sama. Ardhin pun memasukkan nomor registrasinya dan mendapati bahwa dirinya dinyatakan tidak lulus. Saya pun ikut lunglai setelah melihat bahwa saya juga tidak lulus. Kami berdua lalu terduduk lemas dan saling terdiam selama beberapa menit. Setelah berhasil berusaha tegar, kami mengontak teman-teman seperjuangan yang lain, ternyata tidak ada satupun dari mereka yang berhasil diterima di Kemlu. Hari berikutnya, saya mengirimkan email ke pusat saran Kemlu mengenai hasil akhir tersebut, betapa terkejutnya saya bahwa pemberitahuan status kelulusan itu tidak valid dikarenakan error dan kami para peserta seleksi diminta menunggu kembali.

Seminggu setelahnya, pada pukul 3 dini hari, saya pun iseng-iseng mengecek kembali website Kemlu. Ternyata pengumuman status kelulusan sudah terdapat disana. Saya memasukkan nomor registrasi sembari menutup layar laptop karena tidak berani melihat hasil yang sudah ada. Merasa konyol, sata pun membuka sedikit demi sedikit dan menemukan lima hruruf besar LULUS!! Saya pun segera memberitahu orangtua saya. Paginya, saya mengecek kabar Ardhin dan Paulina, ternyata mereka berdua pun lulus. Kami pun akhirnya mempersiapkan segala sesuatunya bersama-sama, bahkan kami memilih penerbangan yang berdekatan ketika kami harus hijrah ke Jakarta. Hingga sekarang, kami bertiga terus menjadi sahabat baik dan saling membantu dengan berbagai latar belakang ilmu yang kami miliki.

735197_454718584583121_721391047_n

semacam bedol desa

Diterima menjadi calon diplomat di Kemlu merupakan salah satu hal terbaik yang terjadi di hidup saya. Dengan gelar MBA yang saya punya, sebenarnya saya memiliki pilihan karir yang lebih beragam ketimbang bila saya hanya bergelar sarjana ilmu politik. Saya dapat saja menggunakan ilmu manajemen saya untuk berwiraswasta, melamar ke berbagai perusahaan multinasional atau berusaha untuk menggeluti karir di bidang perbankan. Sebelum diterima di Kemlu, saya sudah hampir diterima di dua bank BUMN terbesar di Indonesia, dan satu bank swasta di Indonesia. Salah satu pertimbangan saya dalam memilih Kemlu adalah keinginan saya sedari dulu untuk terlibat di dalam suatu institusi dimana saya akan dapat secara aktif mengenalkan Indonesia ke dunia internasional.

Ketika telah diterima menjadi Kemlu, saya harus menjalani pelatihan Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) selama 8 bulan dari bulan Februari hingga Oktober. Saat ini pelatihan telah berjalan hampir 4 bulan, selama ini kami yang berjumlah 59 diberi banyak materi yang berkaitan dengan isu domestik dan perkembangan luar negeri. Para pengajar yang didatangkan pun berasal dari berbagai bidang dan merupakan para ahli di bidangnya. Saya benar-benar harus menggali pengetahuan HI saya semasa kuliah S1 dahulu, seperti diplomasi, organisasi internasional, studi kawasan, dll. Kami pun dibekali tidak hanya substansi, namun juga tarian pergaulan internasional seperti jive, salsa, cha-cha, yang wajib dikuasai. Berbagai materi yang diberikan pun akhirnya membuat saya mengerti bahwa seorang diplomat memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam mengemban tugasnya. Sebagai seorang representasi dari Indonesia, diplomat yang handal harus mampu menampilkan dan menguasai citra terbaik Indonesia.

Saya percaya, segala sesuatu terjadi karena adanya rencana lebih besar dibaliknya. Bila saya diterima di Kemlu pada tahun 2009, saya tidak akan menjadi bagian dari Sekdilu 37 yang mengagumkan ini. Meskipun baru berjalan 4 bulan, saya sudah merasa bahwa mereka yang terdiri dari berbagai latar belakang dan daerah seluruh Indonesia adalah keluarga yang sengaja dipilihkan dan dipersiapkan untuk menemani saya mengarungi masa depan.

Advertisements