Transportasi ibukota, tak kenal maka tak sayang

Sebagai orang yang hampir tiga tahun tinggal di ibukota dan tidak memiliki kendaraan, saya cukup sering  menggunakan transportasi umum sebagai pilihan saya (selain menebeng tentunya, hihihi). Nah, secara terdapat banyak pilihan moda transportasi yang berlalu lalang di jalanan ibukota, saya ingin berbagi bagaimana caranya memilih moda yang tepat bagi para pembaca yang mungkin masih awam dengan transportasi di Jakarta.

Taksi

Memilih taksi di Jakarta itu gampang-gampang susah. Ada taksi kelas premium, taksi kelas bawah, sampai taksi bodong yang memakai argo kuda. Alhamdulilah sampai sekarang saya belum pernah terjebak menaiki taksi bodong tersebut. Seraaaam! Taksi yang (katanya) paling aman itu taksi Burung Biru, tapi argonya juga batas atas juga.  Armada taksi kedua yang saya suka adalah taksi Ekspre*, karena selain tarifnya lebih murah, taksi ini juga jalannya ngebut. Jadi kalau emang lagi buru-buru bisa berhentikan saja itu taksi putih. Buat yang mudah mabuk perjalanan agak tidak disarankan yaa, kecuali sudah menenggak obat anti mabuk. Nah, kalau kalian butuh pergi ke airport, dapat memesan taksi kuning Taxik*, kenapa? Karena jika naik armada taksi ini ke airport, kita tidak perlu membayar tol airport. Lumayan kan bisa menghemat 13.500 rupiah.

Busway

Sering juga disebut Transjakarta. Moda transportasi massal yang terdiri dari 12 koridor ini hampir mampu menjangkau seluruh Jakarta. Saya cukup senang menggunakan busway. Pertimbangan utama saya adalah karena murah dan cukup nyaman (kalau pas tidak penuh loh ya). Tiketnya pun hanya 3500 saja, bila kita naik antara pukul 05.00-07.00 pagi, kita hanya  perlu membayar 2000 saja. Armada busway yang ada di Jakarta kini jumlahnya semakin banyak dan baru, ya tapi kalau sedang apes kita bisa dapat armada yang sudah butut dan bergoncang-goncang kalau dinaiki. Mulai awal bulan Juni kemarin, Pemda Jakarta berencana untuk menambah jam operasional busway menjadi 24 jam. Sekarang sedang diadakan ujicoba pada 3 koridor, yaitu koridor 1, 2, dan koridor 9.

Bis kota

Bis kota ini banyak macamnya di Jakarta, ada metromini dan juga kopaja. Cukup membayar 3000 rupiah saja, kita sudah bisa diangkut. Yang perlu diperhatikan saat berkendara dengan bis kota adalah banyaknya tangan-tangan jahil (alias penyeluk saku atau copet), sebisa mungkin jangan terlihat mencolok dengan mengeluarkan gadget atau dompet, sangat disarankan untuk mempersiapkan uang pas sebelum naik. Pengemudi bis kota juga kerap mengemudi dengan ugal-ugalan demi mengejar setoran. Saya sih karena justru senang kalau bisa cepat sampai sih tidak keberatan dengan hal ini.

Patas AC

Patas AC ini termasuk salah satu moda transportasi kesukaan saya. Jarak tempuh Patas AC ini tergolong luas karena bisa keluar Jakarta juga. Alasan tambahan kenapa saya suka Patas AC itu karena bayarnya tergantung jauh dekat kita pergi, relatif nyaman karena ada ACnya , dan hampir pasti dapat duduk. Ssst, sekedar tambahan info, biasanya para pengamen yang masuk kesini lagu-lagu sama suaranya bagus-bagus deh 😀

Ojek

Di Jakarta ini saya termasuk jarang menggunakan ojek, kecuali sudah sangat terlambat mengingat ojek itu dapat menyelip-nyelip diantara kemacetan ibukota yang sudah melegenda.

Bajaj

Bajaj di Jakarta terdiri dari bajaj oranye dan bajaj biru yang berbahan bakar gas. Sekarang ini sebisa mungkin saya selalu menggunakan yang biru karena suaranya yang halus dan tentunya lebih ramah lingkungan. Tahukah kalian, kalau saya baru saja menyadari suatu fenomena, yaitu, bajaj-bajaj yang ngetem biasanya memasang tarif yang lebih mahal ketimbang yang bisa kita cegat di jalan. Alasan mereka sih, mereka sudah lama mangkal dan menunggu giliran.

Omprengan

Ini salah satu moda transportasi di Jakarta yang belum pernah saya coba. Modelnya sih mirip angkot yang biasanya warna putih dan rutenya ke lokasi Jakarta coret. Konon katanya sih lebih nyaman dan jatuhnya lebih murah.

KRL

Merupakan singkatan dari Kereta Rel Listrik yang kerap dijadikan pilihan bagi para kaum urban yang memilih berdesak-desakkan dan tidak terancam macet. Saya pribadi sih bukan pengguna rutin KRL ini. Saya hanya pernah mencoba menggunakannya ketika akan pergi ke Kebun Raya Bogor dan itupun di hari libur sehingga bisa menghindari mitos kaleng sarden di dalam KRL.

Sepertinya sudah cukup banyak yang saya ceritakan mengenai transportasi di ibukota. Saran saya dalam memilih moda transportasi adalah pastikan anda mengetahui arah menuju tempat tujuan anda, bila memilih pulang di waktu yang larut, selalu waspada dan jangan tertidur, dan terakhir, pastikan  pilihan transportasi anda sesuai dengan budget Anda 🙂

Advertisements