Candu Teknologi

Halo semuaa, seperti yang sudah-sudah, saya akan kembali melontarkan permintaan maaf karena telah terlalu lama menelantarkan blog ini. Saya harap kalian tetap menanti postingan saya ya. Jadi apa kabar kalian bulan Mei ini?

Akhir-akhir ini saya merasa sedih melihat perkembangan jaman. Norak ya, tapi sungguh! Saya sedih melihat bagaimana kita semakin diperbudak oleh teknologi. Saya suka mengamati ketika sedang berkumpul bersama teman-teman, lebih banyak dari mereka yang memperhatikan ponsel pintar mereka ketimbang bercakap-cakap sesamanya. Terkadang ada awkward pause dimana semua orang menjadi diam dan akan kembali menatap layar ponsel mereka. Biasanya disitulah saya akan berusaha sebisa saya untuk menghidupkan percakapan.

upset-PHeat - PH

Oke, saya bukan orang suci yang tidak pernah berkomunikasi dengan ponsel pintar saya. Tapi saya tidak sampai adiktif dengan ponsel pintar dan media sosial. Saya pun termasuk golongan individu yang tidak memiliki banyak akun media sosial karena menurut saya terlalu banyak drama dan saya lebih menyukai kedekatan untuk bertukar kabar secara langsung. Tidak dengan menjadi stalker di sosial media. Entahlah, mungkin saya kuno. Tetapi saya benar-benar masih menghargai komunikasi verbal secara langsung, dengan emosi nyata, tidak hanya melalui emotikon-emotikon semata. Jengah rasanya melihat orang tua yang sudah memperkenalkan gadget ke anak-anaknya, setidaknya tunggulah sampai mereka mulai beranjak remaja. Biarkan mereka bermain langsung di halaman, di taman, tanpa gadget. Percayalah, itu jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat bagi mereka di masa depan!

beach-PH 10458865_10152979186364862_3880712732781265254_n 11148214_10152979186999862_5826919939001367643_n 11267415_10152979187174862_4239108079538433112_o 11267726_10152979186199862_1100469221409063747_n

Kesimpulan saya, kuantitas percakapan semakin berkurang karena orang-orang tidak lagi merasa nyaman berkomunikasi langsung dengan bertatap muka, mulai bingung dan gagap mencari bahan pembicaraan karena semua update yang terjadi pada diri dan sekitar kita telah kita pajang di media sosial. Sebaliknya, mereka semakin pandai merangkai kata melalui media sosial. Menyedihkan yaa, mungkin di masa depan, ketika alat pembaca pikiran sudah ditemukan, kita akan dihadapkan pada dunia yang hening karena orang-orang tidak akan perlu (atau mau) berinteraksi lagi.

twitter 11182175_10152979186944862_4842280797612323035_n 11256594_10152979186109862_691930410049245100_n