Happy (belated) Eid Mubarak

My dear valued readers, i know it’s almost a month late, but let me sincerely say “Taqabalallahu minnaa wa minkum, happy Eid Mubarak, may Allah’s blessings fill you and your family with happiness now and always.

eid

Pictures taken from here

Advertisements

Memudarnya Adab Menonton di Bioskop

Halo pembaca semua, selamat memasuki bulan Juni. Tidak terasa tahun 2015 sudah separuh jalan ya. Jadi, apa kabar kalian? Sudah berapa bucket list yang kalian coret sebagai bagian dari resolusi 2015? Salah satu yang sudah saya coret adalah menonton Mad Max: Fury Road dan Avengers: Age of Ultron setelah penantian panjang.

Tidak, kali ini saya bukan membahas mengenai kedua film tersebut. Melainkan curahan hati saya akan kelakuan para moviegoers yang membuat saya kerap menghela nafas panjang.

Sebagai seseorang yang menganggap serius menonton (dan karaoke) film, saya kerap terganggu dengan kelakuan-kelakuan seperti:

  1. Menyalakan/ berkomunikasi via hape

Sebelum kita memasuki studio dan mulai menonton suatu film, kita tentu sudah berkomitmen dong dengan film yang akan kita tonton. Maka segala komunikasi seperti WA atau bahkan update status pun bisa menunggu setelah film usai. Orang yang mengontak kita pun akan paham bila kita sedang di bisokop. Coba pikir, kita menonton di studio yang gelap dimana satu-satunya pencahayaan adalah layar di depan kita, lalu tetiba ada distraksi berupa pendar cahaya dari LCD layar ponsel, itu kan sangat mengganggu. KZL! Lain halnya bila yang mengontak adalah keluarga kita, tentu patut kita prioritaskan. Tetapi jangan lupa untuk mengangkat telepon di luar studio ya.

  1. Keluar studio, kemudian menanyakan jalan cerita yang terlewat

Ketika kita memutuskan untuk keluar dari studio, tentu kita mengetahui dong konsekuensinya dari aksi kita ini, yaitu tertinggal alur cerita dari film yang kita tonton. Tentu saja tidak salah untuk menanyakan apa yang terlewat, tetapi tolong pertanyaannya bisa menunggu seusai film. Tidak enak lho ketika sedang khusyuk dengan tontonan di depan kita lalu diinterupsi dengan suara-suara di kanan kiri. Hih!

  1. Menendang-nendang punggung kursi di depannya

Ini biasanya dilakukan oleh anak kecil/remaja tanggung/ atau sekumpulan individu yang kelewat antusias oleh adrenalin atau rasa takut. Saya akan memahami bila tendangan itu dilakukan tidak lebih dari 5 kali selama satu film. Tetapi bila lebih dari itu, jangan salahkan saya bila kemudian saya menegur dan memberikan tatapan maut.

Haduh, saya ternyata rewel ya 😀 Habisnya, meski sudah banyak media untuk nonton film secara online, tapi saya tetap masih setia dengan bioskop. Bioskop dengan layar lebarnya, pilihan untuk menonton 3D/4D, dan yang terpenting adalah merasakan atmosfer suatu film bersama dengan seisi studio. Oleh karena itu sangat perlu adanya adab menonton agar kepuasan nonton di bioskop dapat terus terjaga. Kalian sendiri bagaimana? Termasuk moviegoers teladan kah? 😀

Candu Teknologi

Halo semuaa, seperti yang sudah-sudah, saya akan kembali melontarkan permintaan maaf karena telah terlalu lama menelantarkan blog ini. Saya harap kalian tetap menanti postingan saya ya. Jadi apa kabar kalian bulan Mei ini?

Akhir-akhir ini saya merasa sedih melihat perkembangan jaman. Norak ya, tapi sungguh! Saya sedih melihat bagaimana kita semakin diperbudak oleh teknologi. Saya suka mengamati ketika sedang berkumpul bersama teman-teman, lebih banyak dari mereka yang memperhatikan ponsel pintar mereka ketimbang bercakap-cakap sesamanya. Terkadang ada awkward pause dimana semua orang menjadi diam dan akan kembali menatap layar ponsel mereka. Biasanya disitulah saya akan berusaha sebisa saya untuk menghidupkan percakapan.

upset-PHeat - PH

Oke, saya bukan orang suci yang tidak pernah berkomunikasi dengan ponsel pintar saya. Tapi saya tidak sampai adiktif dengan ponsel pintar dan media sosial. Saya pun termasuk golongan individu yang tidak memiliki banyak akun media sosial karena menurut saya terlalu banyak drama dan saya lebih menyukai kedekatan untuk bertukar kabar secara langsung. Tidak dengan menjadi stalker di sosial media. Entahlah, mungkin saya kuno. Tetapi saya benar-benar masih menghargai komunikasi verbal secara langsung, dengan emosi nyata, tidak hanya melalui emotikon-emotikon semata. Jengah rasanya melihat orang tua yang sudah memperkenalkan gadget ke anak-anaknya, setidaknya tunggulah sampai mereka mulai beranjak remaja. Biarkan mereka bermain langsung di halaman, di taman, tanpa gadget. Percayalah, itu jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat bagi mereka di masa depan!

beach-PH 10458865_10152979186364862_3880712732781265254_n 11148214_10152979186999862_5826919939001367643_n 11267415_10152979187174862_4239108079538433112_o 11267726_10152979186199862_1100469221409063747_n

Kesimpulan saya, kuantitas percakapan semakin berkurang karena orang-orang tidak lagi merasa nyaman berkomunikasi langsung dengan bertatap muka, mulai bingung dan gagap mencari bahan pembicaraan karena semua update yang terjadi pada diri dan sekitar kita telah kita pajang di media sosial. Sebaliknya, mereka semakin pandai merangkai kata melalui media sosial. Menyedihkan yaa, mungkin di masa depan, ketika alat pembaca pikiran sudah ditemukan, kita akan dihadapkan pada dunia yang hening karena orang-orang tidak akan perlu (atau mau) berinteraksi lagi.

twitter 11182175_10152979186944862_4842280797612323035_n 11256594_10152979186109862_691930410049245100_n

Road To Java Jazz Festival (JJF) 2015

Dear all, how are you? I hope you’re doing okay in managing the unbearable weather in the capital. Well, I gladly announce that my last three weeks have been extraordinary. I simply still pinch myself just to make sure that what was happened at March 7, 2015 was real. Do I already get your attention? Okay then, what if I told you that I performed in the Java Jazz would you believe that? But guess what? Hell yeah I DID!

I was as shocked as you when my friend slash pianist slash conductor, Rizka, called me when I just arrive in the office to ask me whether I (as part of the Gita Bhuana 37 choir) could perform with The Diplomats Band in the JJF. I remember that I pause for a while try to chew that request in my lunatic brain before I finally said “Yes I can”.  After giving her the answer I finally notice that it was only three freaking weeks to the D-Day! Not to mention it was now only me and my deputy director in our busy sub-directorate. Well okay, those were the cons! The pros were much satisfying, like, OMG, who does not know about JJF? It’s the one of biggest jazz festivals in the world or probably in the largest in Asia! Thousands of people were dying to see the world class performers during the event. And we were there not only to watch, but to perform and entertain the crowd! UBER COOL!

Enough with the pros and cons, here comes the hardest part, the rehearsal! Since the clock was ticking, we had to maximize our best effort and time to rehearse. I told you bluntly that our rehearsal was … wait for it … hardcore. Well, we usually start rehearsing at 7.30 pm to almost midnight. The trigger of it was because the approaching time, the duration we perform (it was one hour!), and the number of songs (they were ten!).  So, there were the band and the choir. There were moment when the choir was the lead singer, but there were also moment where we were the backing vocals. This decision was wisely taken to prevent the fatigue once we were on stage.  As part of the choir, we had seven songs to accomplish. They were Quizas Quizas Quizas, Ayam Den Lapeh, Indonesiaku, Arirang, Fate (OST Full House), Song for Peace, and Just the Two of Us. I was only familiar with four of them, and clueless by the rest. And fortunately it was not only me who felt that way. So, in order to keeping up, we conducted private rehearsal in the weekend.

10433126_10204619983514371_3224070742667935996_n10393909_10204581057701250_208457168324218512_n

Due to our hectic schedule during and after office hours, some of us were sick and losing their voices. But JJF knew nothing about mercy. In order to return the voices, my sick friends then used the shotgun, the kencur. This traditional herb plant was long heard as powerful medicine to maintain the voices and as dry cough best enemy. Some of them wildly chew the kencur, some of them decided to process it first into simple extract. Both ways win anyway.

And we finally reached the D-Day. The mystical March 7, 2015. We arrived in Kemayoran at 4pm, two hours before our performances. We then ate, wondering around for a while, did a mini sound check, and we went up to stage!

C360_2015-03-07-15-18-06-726 C360_2015-03-07-15-17-17-049

I could not know how to describe my feeling when I was on stage. Seeing number of people passing by and finally approaching our stage made me nauseous. I felt like a robot when trying to keep smiling while my stomach knew better. But then I heard the cue from the drum and the piano, the intro was started, and there was definitely no way back. So, I kept on singing, a little dancing, and smiling to the audience. I could recognize a face or two, but most of the time I was blurred by the light. Sixty minutes felt like a glimpse when I finally realize it was over. I heard people clapping and cheering. As we returned to back-stage, some of the crew stages said that we were amazing. And suddenly our dear Sekdilu 37 friends joined us in the back stage and yelling happily to us. At that moment I was beyond happy and run out words. I felt relieve and shed a silence tears of joy.

988945_10152891592408445_7170008125014277750_n 11046593_10204648431905563_4975485667421720635_o

Well then, that was one night to remember. All of our hard work was finally paid off. Thank you the awesome The Diplomats band, you guys are fantastic! And for the Gita Bhuana choir, I love you guys! Let’s do more in the future.

11022567_10152893055018445_4116849454073232826_n 11044615_958979500780788_1802276426179826336_n

And that will be my goodbye for this sentimental post. So, did you see our performance? If you didn’t please do enjoy the flow of photos here. And once I got the video of that night I will definitely share! Till next time you all!

11062701_10200278922731348_615472741106581640_o

Selamat Ulang Tahun, Ma

Halo semuaa, selamat bulan Februari ya. Waktu memang bergulir terlampau cepat. Rasanya baru kemarin kita menyusun resolusi untuk tahun 2015, eh ini tetiba sudah memasuki bulan kedua saja. Bulan Februari ini adalah bulan yang spesial untuk saya. Bukan, bukan karena Valentine, itu sudah terlalu mainstream. Pada tanggal 5 bulan ini, tepat 53 tahun yang lalu, seorang wanita mulia telah lahir dan saya telah diberi kehormatan untuk dilahirkan dari rahimnya 27 tahun silam.

mum

Ibunda saya, yang biasa saya panggil Mama, adalah sosok wanita tangguh yang sudah teruji kelapangan hatinya. Mama yang merupakan anak kedua dari 11 bersaudara dahulu tinggal di dusun  Ngalian  hingga beliau memasuki bangku sekolah menengah. Saya kerap diceritakan kisah beliau dan saudara saudarinya yang harus menempuh perjalanan sejauh 15 kilometer dengan berjalan kaki untuk tiba di sekolah. Berjalan kaki! Menembus terik mentari dan hujan ketika pagi dan siang, sungguh luar biasa. Ketika Mama sudah menginjak usia kuliah, Mama pun memutuskan untuk pergi ke Kota Gudeg untuk menuntut ilmu. Kata Mama, hidup perantauan itu penuh dengan tantangan. Terlebih lagi, itulah kali pertama Mama jauh dari orangtuanya. Mama pun bercerita bahwa ketika kuliah beliau pernah menjadi penjaga loket bioskop demi menambah pemasukan semasa menimba ilmu di Yogyakarta. Lika-liku kehidupan beliau semasa di Kota Pelajar ini pun semakin berwarna ketika beliau bertemu dengan seorang pria hebat yang kini menjadi ayah kebanggaan saya.

Camera 360 C360_2014-08-23-16-05-04-155

Mereka berdua pun mengikat janji pada 1986 dan memutuskan untuk menetap di Yogyakarta. Seperti layaknya pasangan muda yang sedang dimabuk asmara, mereka pun memulai semuanya dari bawah dengan bahagia. Mulai dari mengontrak rumah hingga membeli satu motor yang kerap dipakai untuk membonceng Mama, saya  dan adik. Masa kecil saya sederhana tapi penuh dengan suka cita. Saya kagum dengan sosok Mama yang mampu mendukung Papa dalam suka maupun duka. Bila Mama sakit, kami sekeluarga pasti kelabakan dan menyadari betapa cekatannya Mama dalam mengurus kami sehari-hari.C360_2014-08-23-17-45-58-926

Untuk Mama tersayang, selamat ulang tahun ya Ma. Semoga Mama selalu dilimpahi kesehatan dan kebahagiaan. Maafkan bila Dewy masih belum dapat membalas semua budi baik Mama. Mama adalah ibu terbaik sejagat raya! Panjang umur dan sehat selalu ya Ma! Love you!

Review Pendekar Tongkat Emas (spoiler alert!)

poster PTESkeptis. Itulah perasaan saya ketika akan mengajak Ibunda saya menonton Pendekar Tongkat Emas minggu lalu. Bukan apa-apa, dibanjiri oleh terlalu banyak sinema Indonesia yang lebih menjual lekuk tubuh para lakonnya, membuat saya mulai alergi akan tontonan anak negeri. Namun, karena demi menemani Ibunda saya dan menghabiskan waktu bersama beliau, saya pun akhirnya membeli tiket Pendekar Tongkat Emas, lengkap dengan dua popcorn asinnya :p

Menit demi menit pun berlalu, saya tanpa sadar mulai mengurangi frekuensi mengunyah popcorn saya, well, selain karena memang sudah tinggal sedikit, alur cerita Pendekar Tongkat Emas mulai membuat saya terhanyut. Bagaimana tidak? Saya selama 2 jam nonstop disuguhi pemandangan alam Sumba yang oh-la-la, luar biasa indah. Bukit-bukit nan hijau yang beratapkan arak-arakan awan. Aliran kali yang jernih berikut pantai dengan latar cakrawala yang megah membuat saya susah percaya bahwa keajaiban itu berada di Indonesia. dara-elang alam sumba

Lalu bagaimana dengan cerita Pendekar Tongkat Emas itu sendiri? Saya sangat suka! Bahkan Ibunda saya pun menganggapnya seru. Akting Nicholas Saputra, Reza Rahardian, TaraBasro, Eva Celia, bahkan pendatang baru Aria Kusumah, mampu mengimbangi akting kawakan dari Christine Hakim. Sudah lama saya merindukan dialog-dialog formal yang lawas ditengah gempuran bahasa gaul saat ini. Scene favorit saya adalah ketika Dara dan Angin bersembunyi di atas pohon untuk menghindari kejaran Biru dan Gerhana,  final battle, serta ketika Elang dan Dara akhirnya locking lips :p

Adegan silatnya pun nampak nyata, terlebih ketika final battle di panggung serta di rumah Cempaka, saya sampai menegakkan punggung dan mencengkeram pegangan tangan erat-erat. Memang, kebanyakan adegan silat di dalam film menggunakan tongkat (ya iyalah), tapi tidak sedikit juga aksi silat dengan tangan kosong. Konon, adegan laganya dilatih khusus oleh koreagrafer silat asal Hong Kong, Xiong Xin Xin. arena pendekar tongkat emas nicholas-saputra-jadi-pendekar-di-teaser-pendekar-tongkat-emas

Acungan jempol saya berikan atas kolaborasi apik Mira Lesmana dan Ifa Isfansyah atas hasil Pendekar Tongkat Emas. Mungkin memang masih terdapat kekurangan dalam adegan silat yang menjadi highlight dari Pendekar Tongkat Emas ini. Tapi buat saya itu termaafkan mengingat sudah begitu lama saya merasa antusias seusai menonton film karya anak negeri, bahkan hingga saya bagikan kepada kalian. Biaya produksi yang (katanya) mencapai 25 milyar pun sepadan dengan film yang dihasilkan. Bagi yang belum sempat menonton film ini, saya sangat merekomendasikannya. Tontonlah dan rasakan optimisme akan bangkitnya film Indonesia yang berkualitas.

 

(Part 2): Banda Aceh and Sabang: A Treasure in the Westernmost Part of Indonesia

Dearest readers, happy new year 2015. I do wish this year brings you all joy and sophisticated adventure. As i promised last year *sigh*, i will continue my writing about my trip to Banda Aceh and Sabang. In this part, i will mostly elaborate about my favorite part, the beaches! Do enjoy!

If you notice that we have not mentioned the beaches yet, you got it right, because we want to save the best for last. When we arrived in Sumur Tiga Beach in Sabang, we were totally stunned. We saw a postcard-view quality. White sand beach with very few visitor (less than 10, we believe), not to forget the relaxing coconut trees completed with hammocks to enjoy the view. 10351228_741593719228938_8525495700549757728_n 10325556_741594049228905_7129410859247883115_nIf you want to go to Sumur Tiga Beach, you can rent a minivan from the Balohan Port for IDR50,000. Luckily the cottage we stayed-in had shuttle service and only only 10 meters by the Sumur Tiga beachside.

You know what, i do wish i’d get the chance to spend more time in Sumur Tiga, not just one night like what i did. The beach is glorious and spoiled me intensively with the view. I wish i could just escape there, feeling the sands in my feet and filling my lungs with the fresh air. The cottage itself also should be reviewed. I stayed in Freddies Santai Sumur Tiga. It was perfect from the beginning. Freddie and the staffs made me feel welcome. What i love the most was the breakfast, it was delicious and made by Freddie himself. From the moment i made the reservation until i leave the cottage, i keep telling myself that i will be back, whether with my family or with my love one. The beach, the cottage along with the soothing waves had impressed me deeply.terrace brekkie cottage lobby sunrise 2

Strolling away in Sabang was fun. There are lot of beaches which way less crowded than Bali. We managed to visit Gapang and Iboih Beach. These two beaches are about 45 minutes away from Sumur Tiga Beach. Iboih is well-known for their diverse underwater ecosystem which makes it perfect for diving and snorkeling along with it calm waves. 150722_741602429228067_6710479834413827107_n 1888547_741595922562051_8007415544485389334_n 10801608_741593565895620_3271203258216477303_n 10849979_741597502561893_7843335471803872804_n 10850229_741598225895154_1052627294471963677_n 10850297_741595725895404_980211876910583250_nYou can also find some cottages near the beaches. Make sure you spare your time to enjoy the sunrise/set here.

Since we only have limited time in Banda Aceh and Sabang, we have not explored to the max. But seeing the glimpse of paradise we have experience for 4 days, we would surely return to explore more.

Travel Tips:

  1. If you plan to go to Banda Aceh in November-December, please do make hotel reservation immediately due to room availability.
  2. Please dress properly and for women please get your scarf ready to cover your hair.
  3. Since nature is unpredictable, always check the ferry schedule and the weather, you do not want to miss the ferry, or worst, your flight.