Short Study in Clingendael, The Hague

Morning my all fabulous readers, how are you? Did you have enough rest during the weekend? Or do you craving for more? LOL. Well I recently found myself as a second type of person. I cherish weekend and every day-off counts!

Okay, enough with the babbling, I should start telling you about what I did in The Netherlands. So, there was an agreement between Clingendael Diplomatic Institute and Centre for Education and Training of Ministry of Foreign Affairs (Pusdiklat) which agreed on sending Indonesian young diplomats to study in Clingendael Diplomatic Institute in The Hague. Since the seats were only available for 22 people only, Pusdiklat simply registered the top 22 from the 59 young diplomats. And there I was, feeling quite lucky again by the chance of returning to Europe.1496195_598177933570518_1826956893_o

The program itself was from January 13 to March 6, 2014. So by the time I wrote this post, I’m already enjoying the traffic in the capital. Hooorah! Well, back to the program (seriously, i had a lot of things popping up in my head, and I have the sudden urge to write it down, not nice, sorry sorry), since it was a diplomatic training, I thought that most of the program was discussing about international relations, here is the thing, I’ve never been so wrong 😀 Well yeah, there were some classes about international relation, the regional up and down, but there were also negotiation class where we could practice how to negotiate, and showed up our true colors! Thumbs up also should be given for the lecturers. They were so qualified and blunt, something that quite difficult to find here :p There were also some breathtaking site visit to some institutions that even in my wildest dream I’d get the chance to step my foot in, like NATO, Peace Palace, ICJ, ICC, OECD, and many more you name it! Oh I almost forget to mention our Dutch Water Management class. My oh my, with all those sophisticated technology no wonder they can even manipulate the water flow so they can prevent the flood. Brilliant!

1480591_601797713208540_1161857231_n 1607067_10202419249297955_1437242553_n 1661263_602736643114647_603452261_n

At first I thought that 2 months study could not considered as short study, but when the program started, wuuuuuz, I was like entering a time machine, time flies and suddenly our two lovely coordinator, Anne and Henriette, were taking us to a warm dinner in Shabu-shabu, The Hague downtown.

???? ???? ???? ????

Ah, thank you again, Dear God and universe for all the chance, experience, and whatever comes with it. I have been blessed, and I’m grateful for that.

I have so much to tell you guys about what I did in Europe, I really do. I promise I’ll force my lazy ass to write more, because where’s the fun of having experience by not sharing it? Talk to you later my loyal readers, and have a nice day!!!!

Gita Bhuana, Sekdilu 37 Choir

During my training as a diplomat in Sekdilu 37, I found some marvelous experience that I never had before. Not only we have to study the materials all day, but we also have the privilege to develop ourselves through extracurricular activities such as traditional dance, choir, and sport activities. The interesting thing is, it is mandatory for us to choose at least one extracurricular activity, so voila, I then register for the choir.

Having involved in the choir is way so much for me. During the early selection, I was included in soprano voice. Since the beginning, we learned to sing many songs, not only popular Indonesian songs, but also the traditional one, such as Yamko Rambe Yamko, a famous song from Papua. We usually rehearse twice a week, on Monday and Wednesday night. In the middle of semester one, our trainer, Rizka, divided us into two groups, the regular choir, and the Gita Bhuana. Later on, the Gita Bhuana is often invited to attend some occasion in our future offices in Pejambon, Jakarta.

In the beginning of last June, we were invited to Pejambon for participating by entertaining in the Beasiswa Seni dan Budaya (BSBI) event. BSBI is the scholarship given by Indonesian government for selected foreign applicants to study Indonesian culture and art. For this occasion, we have to prepare since a month before. That long preparation was because the committee asked us to sing BSBI anthem, Indonesiaku, which we were not familiar with.  On the D-Day, since we were required to wear Jakarta traditional costume, we then had to get ready since 4.15 in the morning to go to the beauty salon to get our hair done. But all the sacrifice was paid off. The committee and the scholars were truly entertained by us, and we also got the chance to see our brilliant foreign affair minister with our very own eyes. Yaaay!

436_10151504137418152_1528489001_n

Gita Bhuana in action

600878_10200745884360848_1160908594_n

some of the member during the rehearsal

Well, that was my brief story about my expression as an amateur singer in choir. It was always refreshing the joy that you can get by trying something outside our comfort zone. Have a good day, peeps. 🙂600157_10151743115580555_344627924_n

Menggantang Asa Bersama Kemlu (part 2)

*ini adalah post lanjutan dari post sebelumnya tentang awal mula saya diterima di Kementrian Luar Negeri (Kemlu)*

479834_475084859213160_794899450_nPaska dinyatakan lulus seleksi administrasi, saya pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes tertulis di PRJ Kemayoran. Sesampainya saya di bandara, saya terkejut mendapati salah satu senior saya di bangku kuliah, Paulina, ternyata sedang berada di bandara juga untuk mengikuti tes Kemlu sama seperti saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menghampiri Paulina yang berada di terminal berbeda dengan saya. Ketika saya menaiki shuttle bus, saya mendengar nama saya dipanggil dan saya pun kembali terkejut melihat ada Ardhin, senior saya di kampus, yang juga akan ikut tes tertulis Kemlu. Merasa heran akan kebetulan tersebut, kami bertiga pun bersepakat untuk saling mengontak bila kami lolos ke tahapan-tahapan selanjutnya. Seleksi demi seleksi pun kami lewati, dan kami pun terus lolos hingga ke tahap terakhir. Malam sebelum tes wawancara substansi, kami bertiga berkumpul di kediaman Ardhin untuk belajar dan membahas isu terkini bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana kami mengkondisikan kamar layaknya suasana tes wawancara.

734973_470362719685374_413210043_n

Paulina, saya, dan Ardhin

Paska menghadapi rangkaian tes terakhir, panitia memberi tahu kami bahwa pengumuman hasil seleksi akan diberitahukan dua minggu dari hari tes. Mengingat tes diselenggarakan pada pertengahan November, kami pun berasumsi bahwa sebelum berganti bulan kami telah dapat mengetahui status kelulusan kami. Hari berganti hari, hampir setiap hari saya mengecek website Kemlu untuk melihat hasil kelulusan, namun berita bagus yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung hadir. Sekitar tiga minggu paska tes, saya dan Ardhin sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan di Yogya. Tiba-tiba saya mendapatkan pesan bahwa hasil ujian sudah dapat dilihat di website. Sontak saya memberitahu Ardhin dan kami berdua mengecek hasil bersama-sama. Ardhin pun memasukkan nomor registrasinya dan mendapati bahwa dirinya dinyatakan tidak lulus. Saya pun ikut lunglai setelah melihat bahwa saya juga tidak lulus. Kami berdua lalu terduduk lemas dan saling terdiam selama beberapa menit. Setelah berhasil berusaha tegar, kami mengontak teman-teman seperjuangan yang lain, ternyata tidak ada satupun dari mereka yang berhasil diterima di Kemlu. Hari berikutnya, saya mengirimkan email ke pusat saran Kemlu mengenai hasil akhir tersebut, betapa terkejutnya saya bahwa pemberitahuan status kelulusan itu tidak valid dikarenakan error dan kami para peserta seleksi diminta menunggu kembali.

Seminggu setelahnya, pada pukul 3 dini hari, saya pun iseng-iseng mengecek kembali website Kemlu. Ternyata pengumuman status kelulusan sudah terdapat disana. Saya memasukkan nomor registrasi sembari menutup layar laptop karena tidak berani melihat hasil yang sudah ada. Merasa konyol, sata pun membuka sedikit demi sedikit dan menemukan lima hruruf besar LULUS!! Saya pun segera memberitahu orangtua saya. Paginya, saya mengecek kabar Ardhin dan Paulina, ternyata mereka berdua pun lulus. Kami pun akhirnya mempersiapkan segala sesuatunya bersama-sama, bahkan kami memilih penerbangan yang berdekatan ketika kami harus hijrah ke Jakarta. Hingga sekarang, kami bertiga terus menjadi sahabat baik dan saling membantu dengan berbagai latar belakang ilmu yang kami miliki.

735197_454718584583121_721391047_n

semacam bedol desa

Diterima menjadi calon diplomat di Kemlu merupakan salah satu hal terbaik yang terjadi di hidup saya. Dengan gelar MBA yang saya punya, sebenarnya saya memiliki pilihan karir yang lebih beragam ketimbang bila saya hanya bergelar sarjana ilmu politik. Saya dapat saja menggunakan ilmu manajemen saya untuk berwiraswasta, melamar ke berbagai perusahaan multinasional atau berusaha untuk menggeluti karir di bidang perbankan. Sebelum diterima di Kemlu, saya sudah hampir diterima di dua bank BUMN terbesar di Indonesia, dan satu bank swasta di Indonesia. Salah satu pertimbangan saya dalam memilih Kemlu adalah keinginan saya sedari dulu untuk terlibat di dalam suatu institusi dimana saya akan dapat secara aktif mengenalkan Indonesia ke dunia internasional.

Ketika telah diterima menjadi Kemlu, saya harus menjalani pelatihan Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) selama 8 bulan dari bulan Februari hingga Oktober. Saat ini pelatihan telah berjalan hampir 4 bulan, selama ini kami yang berjumlah 59 diberi banyak materi yang berkaitan dengan isu domestik dan perkembangan luar negeri. Para pengajar yang didatangkan pun berasal dari berbagai bidang dan merupakan para ahli di bidangnya. Saya benar-benar harus menggali pengetahuan HI saya semasa kuliah S1 dahulu, seperti diplomasi, organisasi internasional, studi kawasan, dll. Kami pun dibekali tidak hanya substansi, namun juga tarian pergaulan internasional seperti jive, salsa, cha-cha, yang wajib dikuasai. Berbagai materi yang diberikan pun akhirnya membuat saya mengerti bahwa seorang diplomat memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam mengemban tugasnya. Sebagai seorang representasi dari Indonesia, diplomat yang handal harus mampu menampilkan dan menguasai citra terbaik Indonesia.

Saya percaya, segala sesuatu terjadi karena adanya rencana lebih besar dibaliknya. Bila saya diterima di Kemlu pada tahun 2009, saya tidak akan menjadi bagian dari Sekdilu 37 yang mengagumkan ini. Meskipun baru berjalan 4 bulan, saya sudah merasa bahwa mereka yang terdiri dari berbagai latar belakang dan daerah seluruh Indonesia adalah keluarga yang sengaja dipilihkan dan dipersiapkan untuk menemani saya mengarungi masa depan.

Menggantang Asa bersama Kemlu (part 1)

Memasuki Kementerian Luar Negeri (Kemlu) merupakan salah satu cita-cita saya sejak saya duduk di bangku SMA. Awalnya motivasi saya ingin bergabung dengan Kemlu adalah karena saya menganggap menjadi diplomat itu sesuatu yang keren dan susah ditaklukkan, sehingga membuat darah muda saya menggelegak. Namun seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa dengan menjadi diplomat, saya akan memiliki akses yang lebih terhadap Indonesia di luar negeri. Saya ingin mengubah persepsi masyarakat luar mengenai Indonesia. Meskipun kini Indonesia merupakan salah satu negara yang tengah berkibar, masih banyak pihak diluar sana yang menganggap Indonesia merupakan negara terbelakang, miskin, bar-bar, dan sarang teroris. Citra-citra negatif tentang Indonesia itulah yang ingin saya luruskan agar Indonesia dapat semakin dikenal dan diperhitungkan di kancah internasional.

Pada tahun 2009, selepas saya menyelesaikan pendidikan sarjana saya di Universitas Gadjah Mada, saya pun memutuskan untuk mengikuti seleksi Kemlu. Tahap demi tahap pun berhasil saya lewati. Saya pun merasa yakin dan percaya diri bahwa saya akan diterima di Kemlu. Namun, pada saat tes wawancara terakhir, saya mendadak blank dan tidak dapat menjawab pertanyaan pewawancara dengan baik, saya pun lebih banyak diam dan tersenyum ketika menerima pertanyaan. Seusai tes, saya pun melangkah keluar ruangan dengan gontai, saya percaya bahwa saya tidak akan lolos seleksi Kemlu dengan performa saya tadi. Benar saja, sebulan kemudian, saya mendapati bahwa saya tidak lulus seleksi. Fakta itu cukup menghantam saya dengan telak, namun akhirnya saya memutuskan untuk tidak berlama-lama bermuram durja. Setelah kontrak kerja saya di suatu lembaga bahasa inggris selesai, saya pun memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan S2 saya di MM UGM.

Setelah lulus dari MM UGM pada tahun 2012, saya pun mendaftar ke berbagai perusahaan dan instansi pemerintah, termasuk Kemlu. Kedua orang tua saya menyarankan saya untuk tidak kembali mencoba Kemlu mengingat kegagalan saya di tahun 2009 yang lalu. Keluarga dan orang-orang di sekitar saya mengatakan akan mustahil diterima di Kemlu bila kita tidak memiliki koneksi dengan orang dalam Kemlu. Pun bila ingin diterima di Kemlu, kami harus membayar sejumlah uang sebagai “tiket masuk”. Namun, saya tetap kembali mendaftar ke Kemlu sembari berjanji pada diri saya sendiri bahwa bila saya kembali gagal lolos pada seleksi kali ini, saya tidak akan mencoba mendaftar Kemlu lagi.

Pada awal-awal mengikuti tes, saya ingat betapa rempongnya persyaratan yang harus dibawa. Persiapan itu berhasil membuat saya dan keluarga saya (terutama mama) kelabakan. Persyaratan yang paling menguras tenaga adalah ketika kami harus membawa dokumen-dokumen seperti Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKCK), Kartu Kuning, dan Surat Keterangan Sehat dari dokter. Masih segar di ingatan saya ketika saya harus mengantri panjang demi mendapatkan ketiga surat sakti tersebut. Ternyata, yang mencari ketiga dokumen tersebut tidak hanya saya, banyak orang-orang lain yang berusaha mencarinya demi mencari pekerjaan. Bagi saya, pemenuhan persyaratan pendaftaran Kementerian Luar Negeri sudah merupakan proses seleksi mengingat banyaknya dokumen yang harus disertakan dan berbagai pernik-pernik tambahan lainnya. Oh ya, ada tips yang ingin saya berikan terkait pendaftaran dan printilannya, yaitu lengkapilah semua persyaratan yang diminta dan aturlah dokumen-dokumen tersebut sesuai urutan. Tidak perlu berimprovisasi dan menyertakan dokumen-dokumen yang tidak diminta. Salah satu teman saya menyertakan legalisir ijazahnya dari ketika dia SD hingga kuliah, padahal yang diminta hanyalah ijazah pendidikan terakhir saja. Cerita akhirnya pun dapat ditebak, teman saya itupun tidak lolos seleksi administrasi Kemlu. Tidak lolos suatu seleksi hanya karena hal-hal sepele dan tidak substantif itu cukup menyesakkan loh, oleh karena itu, tepati semua persyaratannya ya 🙂

Jejak Karir – ODP Bank Mandiri

Halo, halo, selamat pagi semuanyaaaa. Apa kabaar ? Pagi ini saya berencana ingin berbagi tentang pengalaman saya dalam mencari pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan itu tidak mudah, saya harus ikut tes di sana sini sampai akhirnya saya sekarang diterima di salah satu Kementerian di Indonesia. Kenapa saya tidak membuka usaha sendiri saja ? Jawabnya sederhana, saya ingin merasakan sendiri pahit manisnya bekerja. Tenang saja, opsi untuk berwiraswasta sudah ada di benak saya, bahkan, saya sudah tahu akan membuat usaha macam apa 🙂

Well, pengalaman yang ingin saya ceritakan sekarang adalah pengalaman ketika saya mengikuti seleksi Officer Development Program (ODP) Bank Mandiri. Saya mengikuti seleksi ini pada bulan Juli 2012 ketika ada job fair di kampus saya, dan saya sendiri ketika itu masih belum lulus dan masih harus berjibaku dengan tesis tersayang saya. Pertimbangan saya kala itu dalam mencari pekerjaan adalah saya memikirkan lamanya proses yang mungkin dibutuhkan dari melamar, tahapan seleksi, hingga diterima kedalam suatu perusahaan. Alangkah menyenangkannya jika kita sudah lulus kuliah, kita tidak perlu repot-repot lagi mencari pekerjaan 😀  Nah, tahapan seleksi ODP Bank Mandiri ini cukup banyak, sekitar 6 tahapan, dan berikut penjelasannya:

  • Seleksi Administrasi

Seleksi administrasi atau seleksi berkas untuk Bank Mandiri terbilang cukup sederhana. Kita tidak perlu membawa-bawa CV dan salinan ijazah atau transkrip nilai. Karena saya mendaftar ODP Bank Mandiri ini melalui job fair, saya cukup mendatangi booth Bank Mandiri dan mengisi formulir yang sudah disediakan, serta menempelkan pas foto di formulir tersebut. Dari selentingan-selentingan kabar yang saya dengar, Bank Mandiri akan memprioritaskan orang-orang yang sebelumnya belum pernah mendaftar ODP Bank Mandiri, untuk yang pernah mengikuti seleksi ODP Bank Mandiri dan gagal, sepertinya ada jeda waktu sebelum kita dapat mendaftar ODP Bank Mandiri lagi, sayangnya saya kurang tahu tepatnya berapa lama.

  • Walk-in Interview

Setelah lolos seleksi administrasi (hasil seleksi administrasi akan langsung diberitahukan sore atau malam harinya), keesokan harinya kita akan mengikuti walk-in interview. Wawancara awal ini dilakukan langsung oleh HRD Bank Mandiri. Seingat saya ada tiga orang pewawancara, dan setiap pewawancara akan mewawancarai lima orang. Wawancara ini akan dilakukan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan yang akan diajukan pun standar, berkisar tentang aktifitas kita sehari-hari, dan berdasar dari formulir yang kita isi hari sebelumnya. Hasil dari walk-in interview akan diumumkan pada hari itu juga.

  • Tes TOEFL

Tahapan selanjutnya setelah walk-in interview adalah tes TOEFL. Ketika itu tes TOEFL dilaksanakan di Fakultas Ilmu Budaya UGM. TOEFL yang diujikan pun bukan TOEFL Like melainkan TOEFL ITP. Sebenarnya saya masih memiliki sertifikat TOEFL ITP yang masih berlaku, akan tetapi Bank Mandiri tetap mewajibkan semua peserta yang lolos untuk mengikuti tes TOEFL tersebut. Bagi yang sudah pernah mengikuti tes TOEFL pasti akan tahu dan bisa mengerjakan

  • Tes Aptitude

Naaah, ketika saya diumumkan lolos ke tahap tes aptitude, saya bingung karena saya sama sekali tidak tahu seperti apa tes aptitude itu. Untungnya, dalam pesan singkat yang dikirim oleh Bank Mandiri, disertakan pula alamat website www.shl.com, yang disitu terdapat model-model soal dalam tes aptitude. Saran saya, banyak-banyaklah berlatih dan mencoba mengerjakan contoh-contoh soal tersebut. Untuk soal-soal hitungan, karena waktu untuk mengerjakan terbatas, soal-soal tidak perlu dikerjakan semuanya, kerjakan saja dari yang termudah dahulu dan yang paling yakin benar.

  • Leaderless Group Discussion (LGD)

Setalah berselang seminggu, saya mendapat kabar bahwa saya lolos untuk mengikuti LGD Bank Mandiri. LGD ini dilaksanakan di kantor Bank Mandiri di Jalan Sudirman. Dari hasil bertanya kepada teman-teman yang sudah pernah mengikuti tes ini, kita akan diberikan kasus yang harus dipecahkan bersama-sama dengan kelompok. Ketika LGD saya berperan sebagai semacam sekretaris dan menulis hasil-hasil diskusi di papan yang terdapat di bagian depan. Seusai LGD, saya merasa bahwa saya tidak memberikan upaya yang maksimal dalam LGD tersebut.

Sekitar tiga hari dari LGD, saya dihubungi oleh rekan seperjuangan ODP Bank Mandiri. Ternyata dia sudah mendapat telepon dari Bank Mandiri yang memintanya untuk mengikuti medical check-up. Seharian saya menunggu dan menatap telepon saya namun nihil. Saya pun sadar saya tidak lolos. Perjuangan saya di seleksi ODP Mandiri terhenti di tahap LGD. Waaah, cukup sedih lho rasanyaa, mengingat tahapan yang tersisa tinggal medical check-up dan wawancara direksi. Setelah itu langsung tanda tangan kontrak. Tapi ya sudahlah, mungkin rejeki saya bukan di Bank Mandiri. Buat yang sedang cari kerja, jangan patah semangat yaaa. Kalau gagal coba lagi, terus dan terus. Kesuksesan seseorang itu tidak diukur dari seberapa sering dia gagal, tapi seberapa sering dia berhasil untuk bangkit lagi (saya lupa ini kutipan dari siapa). Sukses semuanyaaaa…