C’est La Vie

“When you love someone, truly love them, you lay your heart open to them. You give them a part of yourself that you give to no one else, and you let them inside a part of you that only they can hurt-you literally hand them the razor with a map of where to cut deepest and most painfully on your heart and soul. And when they do strike, it’s crippling-like having your heart carved out.”

― Sherrilyn Kenyon

 

well said, i’ve learned the hard way. The person you love the most can make you cry the hardest

 

Advertisements

Food for Thought

One of my hobbies is reading. Since I was little, I found it satisfying to read something. Well, during my childhood, I read almost everything, from folklore to magazine, you name it. I read constantly even when I didn’t know the meaning or the vocabs. I remembered when I was in my fifth or sixth grade, I made my mother furious because instead of doing my homework, I rather spent my spare time in books rental. LOL, those good ol’ times were hilarious.

When I grow up, my reading habit hasn’t disappeared, it grows stronger instead. I read faster than the others. Although the internet era has conquered us now, I still prefer paper as my reading material. I don’t know why, but there is such happy feeling when you can touch and interact with your reading material. You can flip the paper, add some notes, or even just simply squeeze it. Well, the environmentalist will definitely dislike my behavior. I also loveee the smell of new book, and I guess that is one reason why I seldom read something online.

Book is such a good friend of mine. Before I go somewhere, I always make sure that I’ve brought books with me. I love spending my time by reading books almost everywhere, in my room, in a coffee shop, in a park (it’s kinda difficult to find a cozy park to read here in Indonesia), even in a plane. Interestingly, I can’t read books in car, well actually not only books, anything written in paper base would be impossible to be read by me in car. It will make me dizzy and sick in instant. But no worries, I still able to read sms, tweets, or any status updates.

IMG01851-20110923-1636

Reading can comfort me. I don’t have any topic preference in reading, but I’m just not into futuristic topics, and oh, also some cheesy teenage romance, a big NO. By reading a lot, I can have a lot of imagination. It was nice and worth the time if I can find a good book. I always adore the writer who can create such masterpiece *bow*. FYI, I love books written by JK Rowling, Charles Dickens, Dave Koontz, Joy Fielding, and Nicholas Hemingway. But again, sometimes some books could just surprise me, like hidden treasure.

IMG03132-20121216-1720

Well then, do you also like reading? Would you kindly share or recommend me some good books to read? The holiday is approaching fast, and my book cart is still empty 🙂 Have a nice day, pals!!!!

Prague (Praha) Trip, Czech Republic, December 2011

My trip to Prague, Czech Republic, was very outstanding. I joined a tour from Lille, France which enabled me to meet a bunch of new friends. I’m willing to tell about my new friends experience soon after i finish this post. I spent 3 days and 2 nights in Prague. It was not enough for me yet. Prague was amazing. I wish i can do my honeymoon there. Just check out these photos, i do believe you’d have the same thought after 😀

Krones, 1 Euro is around 20-25 krones

 

with the Royal guide

 

Prague night view

 

a view from Charles Bridge

 

at Restaurace U Parlementu

 

at John Lennon Wall

 

Prague National Museum

 

magnificent Old Town

 

 

Relative Happiness

People do pursue happiness. Some of them identified happiness with money, power, or even authority. I just realized that happiness is truly relative. My happiness might be different from yours. I don’t have any complicated so-called happiness. Indeed, my happiness is pretty simple.

the best pancake in town
  • Happiness for me is sipping tea and biting warm pancake alone or accompanied by one good friend only.
  • Happiness also could be me sitting on a park bench with a good novel and seeing people passed me by. It is always comforting observing and guessing what other people up to.

  • Happiness also easily found by me by strolling along in the beach, pampering myself with superb view, feeling the sand in my feet. That’s awesome, isn’t it?
  • Happiness is accidentally bumped into your crush somewhere, whether he realizes your existence or not. The thing that matter is you see him.
  • My ultimate happiness is having a me time for daydreaming about what my future will be. I always wanna live in Paris or London, with four children (two of them are twins) and a caring husband in a sophisticated apartment.
Paris, the dreamland

Aaaaah, see, my happiness is simple. Some of them are even free. I can simply choose which happiness that i want (except maybe the last one, i have to go long way through for that 🙂 ) So readers, whatever your source of happiness is, remember, you deserve to be happy, be positive, if i can do that, then you can too.

Pembelajaran dan Pendewasaan

Perjalanan saya ke Eropa selama 5 bulan membawa banyak perubahan pada diri saya. Berasal dari keluarga yang konservatif dan orangtua yang kelewat protektif membuat mereka khawatir ketika akan mengizinkan saya pergi keluar negeri seorang diri. Tapi ya, keteguhan niat saya sudah tidak bisa dibendung lagi, berbagai nasihat pun diberikan menjelang kepergian saya.

Setibanya saya di Perancis, saya sudah merasakan jiwa petualang saya menyeruak kembali ke permukaan. Perasaan ingin tahu dan ingin mencoba ini itu rasanya hampir tak tertahankan. Saya tidak sempat merasa kesepian dengan absennya mahasiswa Indonesia di kampus saya, SKEMA Business School, mengingat akan merupakan suatu kesia-siaan bila saya hanya mengunci diri di dalam kamar. Di Perancis, perlahan-lahan saya berusaha meninggalkan sifat khas orang Asia yang cenderung kolektif dan melakukan hampir semua aktifitas bersama-sama. Saya menjadi lebih individualis yang berusaha sesedikit mungkin bergantung pada orang lain. Saya ingin mandiri.

Setiap hari adalah petualangan. Selalu ada pengalaman baru yang saya dapatkan. Tidak melulu bagus, terkadang juga saya mengalami peristiwa yang membuat saya sedih, miris, galau, tapi saya bertekad untuk tidak berlarut-larut dalam segala bentuk kesedihan karena demi Tuhan, saya sedang di Perancis, negara impian puluhan juta orang, dan daripada saya menggalau, oh, masih ada banyak orang yang rela bertukar tempat dengan saya. Saya berusaha meyakini segala sesuatu pasti terjadi karena sebuah alasan. Yeaaa, I became so positive there, in France.

Pelan tapi pasti, saya menjadi lebih berani dari hari ke hari. Saya gemar menyusuri jalan-jalan di kota saya, Lille, untuk melihat dan mengenal sekeliling, berhenti di salah satu anak tangga di teras sebuah bangunan tua hanya untuk menyesap air minum dan melahap crepes, atau mungkin hanya duduk mematung sambil melihat orang berlalu lalang. Apakah saya tidak takut hilang atau tersasar? Oho, jangan salah, saya adalah orang yang buta arah, tidak dapat membedakan mana utara selatan, layanan Blackberry saya pun tidak saya aktifkan disana sehingga saya hanya mengandalkan hape tua saya yang tidak dilengkapi layanan internet bila saya tersasar. Pernah suatu waktu ketika saya sedang di Metro (kereta bawah tanah di Perancis) saya berulangkali mengecek dengan gugup apakah saya sudah menuju arah yang benar. Tapi saya berusaha untuk tampil (sok) tenang agar penumpang lain tidak melilhat kegugupan saya. Lega rasanya ketika bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Kadar keberanian dan kepercayaan diri saya meningkat dengan ajaib di bulan kedua saya di Perancis. Hal itu dipicu dengan telah terbitnya Residence Permit saya yang mengizinkan saya untuk berkeliling negara Eropa dengan aman. Sekedar informasi, untuk orang yang akan tinggal di Perancis lebih dari 3 bulan, diwajibkan untuk membuat Residence Permit ini, jika anda berniat tinggal kurang dari 2 bulan, cukuplah mendaftar visa Schengen saja.

Residence permit sudah di tangan, saya pun memulai perjalanan berkeliling Eropa untuk mengunjungi teman-teman saya yang tersebar di sana. Hampir di setiap perjalanan saya selalu pergi sendiri, tetapi pasti sudah ada tim penyambut di negara yang saya tuju. Bepergian sendiri membuka banyak perspektif baru dalam diri saya. Masih segar dalam ingatan saya, ketika saya harus berlari kesetanan untuk mengejar shuttle bus yang sudah akan berangkat. Setibanya di dekat bus saya pun mengetuk pintu bus dengan muka memelas dan nafas memburu, untung saja si pengemudi membukakan pintu bus dan mempersilahkan saya masuk. Di dalam bus saya tertawa tertahan mengingat aksi konyol yang saya lakukan sebelumnya. Saya, si gadis mungil dengan tinggi tak sampai 155cm berlari-lari menggebah pejalan kaki lainnya sambil menyeret koper demi dapat mengejar shuttle bus ke arah bandara.

Peristiwa paling menakjubkan yang mengubah pola pikir saya terjadi pada bulan Januari 2012, ketika saya akan melakukan perjalanan ke Swedia. Saya menggunakan maskapai penerbangan murah, Ryan Air, yang mengharuskan saya untuk berangkat dari bandara Charlesroi di Brussels, Belgia pada jam 7 pagi. Tunggu sebentar, saya ada Perancis, tapi kenapa saya berangkat dari Belgia? Well, begitulah Ryan Air, tidak semua negara mempunyai penerbangan yang sama. Bila saya ingin ke Swedia dari Perancis, saya harus ke Paris terlebih dahulu. Dan bandara di Paris yang digunakan oleh Ryan Air bukanlah bandara utama Charles de Gaulle yang terletak di kota, melainkan bandara Bauvais yg terletak di pelosok Paris. Biaya yang saya gunakan dari Lille ke Paris Bauvais bisa saja lebih mahal dari tiket saya ke Swedia. Jadilah saya memutuskan terbang dari Brussels yang tidak jauh dari Lille.

Ketika melihat jadwal kereta pagi, saya baru sadar bahwa saya tidak akan mungkin dapat mengejar ke bandara. Kereta paling pagi berangkat sekitar pukul 6 dan akan sampai di Brussels pada pukul 7. Padahal saya harus sudah ada di bandara satu jam sebelumnya untuk mengurus tetek bengek di bandara. Jadilah saya mengambil kereta paling malam ke Charlesroi dan memutuskan untuk menghabiskan malam di stasiun kereta sambil menyesap susu hangat (saya bukan penikmat kopi) dan membaca majalah di salah satu kafe di stasiun Charlesroi.

Kereta yang saya tumpangi dari Lille amat sangat sepi. Hanya ada 3 orang di gerbong yang saya naiki, dan bisa ditebak, sayalah satu-satunya perempuan di gerbong itu. Ketika kondektur kereta datang dan memeriksa karcis saya, saya meminta agar saya diperingatkan ketika saya akan sampai di tempat tujuan, tak dinyana seorang bapak di gerbong tersebut ternyata juga akan turun di tempat yang sama. Berkali-kali saya menjaga diri agar tidak terlelap dan kebablasan pemberhentian. Saya terus menerus berusaha melihat keluar setiap kali kereta berhenti untuk menghitung berapa pemberhentian lagi sebelum tujuan saya.

Pukul 23.45 saya tiba di stasiun kereta Charlesroi bersama sekitar 6 penumpang yang lain (termasuk si bapak baik hati yang membantu menurunkan koper saya). Saya pun melongo melihat stasiun yang gelap dan kosong melompong tanpa ada toko atau kafe yang buka. Penumpang-penumpang lain yang tadi turun bersama saya bergegas keluar stasiun, saya pun mengikuti mereka sembari setengah berharap saya akan menemukan salah satu penumpang yang berniat menghabiskan malam di stasiun, ternyata harapan saya itu tidak terkabul. Saya mengecek jadwal bis selanjutnya yang akan membawa saya ke bandara, ternyata bis baru akan tersedia pukul 5 pagi. Kepanikan mulai menggelegak, saya mencegat salah satu petugas stasiun dan bertanya apakah ada hotel atau kafe atau restoran yang buka di dekat stasiun, dengan mata menyipit dan melihat jam tangannya beliau pun berkata “je crois que non mademoiselle, le gare sera ouvert a 04h00” – saya rasa tidak ada nona, stasiun ini akan buka kembali nanti pada pukul 4—dan si petugas tadi pun berlalu meninggalkan saya seorang diri.

Saya melihat sekeliling dengan bingung dan panik, berbagai macam cerita kejahatan seperti perampokan, pembunuhan dan perkosaan berputar di kepala saya. Saya pun akhirnya memutuskan duduk di anak tangga yang tersembunyi dan paling dekat dengan kamera pengawas untuk menghindari tindak kejahatan yang mungkin terjadi. Saya bisa saja ke bandara naik taksi, namun setelah mengintip dan melihat sopir-sopir taksi berwajah seram, saya pun memutuskan menunggu pagi di stasiun. Sendirian.

Waktu 4 jam terasa berlalu sangat lambat. Untung saja saya membawa buku bacaan untuk menjaga saya tetap waras selama penantian yang terasa berabad abad. Rasa kantuk di kereta mendadak hilang digantikan adrenalin yang memaksa saya untuk terus waspada. Saya pun berusaha berkirim pesan kepada teman-teman saya di Indonesia, dengan asumsi mereka sudah bangun karena saya yakin saat itu sudah pagi di Indonesia. Sayang sekali hanya sedikit yang membalas dan bertukar pesan dengan saya. Saya pun hanya ditemani sebuah novel dan bunyi kereta yang melintas di stasiun. Setiap 45 menit sekali saya bangkit dan berjalan-jalan sekedar untuk melemaskan kaki. Rasanya saya sudah membaca habis semua iklan dan jadwal keberangkatan kereta di papan pengumuman kala itu.

Pukul 2 pagi, saya mendengar langkah kaki mendekat, saya pun merapatkan diri ke tembok tempat saya bersembunyi, sambil mengintip sedikit demi sedikit, ternyata itu adalah tukang Koran yang meletakkan korannya di stasiun. Kepala saya pun muncul dari balik tembok ketika saya menyapa si loper koran. ‘Bonjour’ sapa saya dengan senang melihat adanya tanda-tanda kehidupan. Si loper koran pun terkejut melihat kehadiran saya dengan pakaian ala gadis eskimo, lengkap dengan penutup telinga saya. Dia pun bertanya apa yang saya lakukan di stasiun pada pukul 2 pagi, ketika saya menjawab saya menunggu bis ke bandara, dia membalas memandang saya dengan iba, dia pun mengajak saya untuk berkeliling stasiun guna mengedarkan koran-koran. Dengan halus saya menolak, bukan karena saya takut, tapi saya membawa koper yang akan merepotkan untuk naik turun tangga. Si loper koran pun berlalu setelah meminta saya berhati-hati dalam menunggu pagi.

bersama Vidya di Jonkoping, Swedia

 Pukul 4 pagi pun akhirnya tiba juga, hati saya membengkak dua kali lipat ukuran aslinya melihat televisi layar datar yang berisi jadwal keberangkatan mulai menyala. Perlahan tapi pasti, saya membereskan ‘markas’ saya dan menuju ke pintu stasiun untuk menunggu bis yang akan mengantar saya ke bandara. Di halte bis saya melihat orang-orang yang diturunkan oleh keluarganya untuk menunggu bis ke bandara. Saya pun menyunggingkan seulas senyum kepada mereka karena saya merasa sangat bangga bisa bertahan seorang diri di stasiun selama 4 jam. Pelajaran yang dapat saya petik adalah stasiun di Eropa itu tidak sama dengan di Indonesia yang meskipun tidak buka 24 jam, tetapi akses ke peradaban sangat melimpah. Saya tidak mau lagi menginap di stasiun di Eropa 😀

Sani, si panitia penyambut

Hidup di negeri orang tidak melulu susah. Memang benar kata pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita harus pintar beradaptasi dan berpikiran terbuka. Saya masih menyimpan banyak kisah life-changing ketika saya di Eropa. Mungkin saya akan membaginya di lain kesempatan kepada para pembaca. Oh, sekedar ingin tahu, apakah anda menyukai gaya menulis saya dalam bahasa Indonesia? Mengingat saya lebih banyak memposting dalam bahasa Inggris. Terima kasih, selamat berhari Senin semuanyaaa J

Netherlands Trip

PS: This draft was made 11 months ago

the souvenir shop in Amsterdam

Back with me again, readers, how are you? As I promised before, I will start to share you guys about my adventure in Europe. And the first country I visit outside France waaaaas ……. Netherlands!!! Long before I had my residence permit, I said to myself that I will travel around Europe, visit new places, meet new people, try all the public transport, etc. Please do not blame me with all the cockiness, I was just extremely excited. Sooo, a day after I got my residence permit, I started my adventure.

the WTC in Beurs, Rotterdam

My consideration in choosing Netherlands was because I have some friends there. They study in Erasmus University, Rotterdam. I went there for 4 days, November 3 to November 7. For my trip there, I took the Eurolines bus from my city, Lille. When I bought the bus ticket, I was a bit confused about the picking point. In the bus website, the pick-up point was between the Lille Europe train station and Crowne Plaza Hotel, but when I checked using the google map thingy, I saw no sign for Eurolines pick-up point. Not any single sign. So I contacted my Korean friend, Doyun, and fortunately she was able to accompany me there, and voila, I saw it with my own eyes that there was no sign of Eurolines bus there. No wonder I got so confuse. My departure should be at 16.30 but wow, the bus arrived 15 minutes before and left 5 minutes before the schedule. The bus driver was so friendly and funny. He made several jokes during the trip. One and a half hour later, the bus stopped at Brussels, Belgium. We had 45 minutes to wandering around or getting some food. Some of the passengers got of at Brussels and only few of them continuing to Rotterdam.

At 21.00, I finally arrived at Rotterdam grand central station. Surprisingly, it was only me who got off there. The remaining passengers were going to Amsterdam. So after waiting for about 20 minutes, my friend Ahmad and Dewisya finally picked me up there. I spent my first night in Dewisya’s apartment. Dewisya lived with 3 Indonesian girls. They all study in the Erasmus University.

cubic house

The next day, I went to Erasmus University and guess what, I joined their class. Well, not the whole class, just the first 90 minutes, and after that, while waiting for my friends finishing their class, I did a quick tour around the university. In the afternoon, me and Dewisya went to have some lunch in the downtown. I ate the kapsalon, it was slices of chicken combined with French fries and some salads. After that, we went to the city hall, world trade center and cubic house. I also met my friends Ira and Metta from my home university. The good thing in Rotterdam (or even the whole Netherlands) was the existence of Indonesian restaurant everywhere, maybe it was because not only the Dutch ever occupied Indonesia for almost 3.5 century, but also the expansion of Indonesian students to Netherlands itself. Knowing my lack in Indonesian culinary during my stay in France, my friends took me to an Indonesian restaurant owned by Indonesian couple. For 10 euro I got rice with ayam rica, tumis kacang panjang, and telur balado. It was delicious and worth the price, although in Indonesia, you will have at least ten portions of those food in that price. Well, I spent my second night in Ira and Metta apartment. Their apartment is a bit further, but they have bigger apartment than Dewisya. I even got my own room J

me n Dewisya

The day after, they took me to Amsterdam!! Yaaay, the train ticket was only 16 euro for two was because one of my friends got the discount card, not baaaad at all. The trip was only 1 hour long. Once we arrived in Amsterdam, we split the group. Me and Nilam went to Sex Museums, and Amsterdam Shopping Street. Actually I wanted to go to Madame Tussaud, but the queue line was so long. In the evening we went to a book store (I forgot the name) which sold the book in very good deal, unfortunately I didn’t buy any of those books. And at night we returned to Rotterdam.

The third day, it was the Idhul Adha day. All the moslems throughout the world celebrate this day by sacrificing four legged animals such as cow, camel, goat, etc. in Rotterdam, since there was a lot of Indonesian people, me and my friends went to the small mosque there and found a lot of Indonesian family there. After doing the pray, we gathered in a one Indonesian house and having the lunch there. Oh how I miss my family at that time..

My last day in Rotterdam was tranquil. I went to a local supermarket to buy some snacks for my next trip to Cologne, Germany. I bought Dutch traditional food, stroopwafel. I was so glad meeting my friends in Rotterdam. The local people there were also so fluent in English. What I didn’t like there is the public transport. It was so expensive. For a single journey could cost us 4 Euro, meanwhile in Lille, the same amount of money can be used to purchase one day ticket. Ckckckckkc k. It was funny how I also miss Lille during my every trip outside France.

Well, that was my trip to Rotterdam and Amsterdam. I will be back very soon to tell my other trips. You have a nice weekend!! Ciaooo