2013 In a Glance – Uber Late Post!

Morning readers! Happy belated new year! I hope you guys welcome 2014 as excited as I am. Nevertheless, 2013 has just went away, I have no doubt that last year was one of the important years in my timeline. There were excessive moments in 2013, the good and the bad, which makes me stronger and better. And here is some summary from my 2013:

1. January

  • In the beginning of 2013, i officially moved to Jakarta to start my 8 months diplomatic training. I was still remember the anxious feeling of that time.

2. February

  • I started my diplomatic school training (Sekdilu) in Jakarta. It was such a great things since i got the chance to meet other 58 brilliant young diplomats (in the making). LOL. And since then, we’re labeled as Sekdilu batch 37 till now.

3. March

  • The “late” opening of Sekdilu 37 in Gedung Pancasila, Ministry of Foreign Affairs. But hey, better late than never, right?
  • I force my lazy ass to joined Fun Running Prambors. I’m not a fan of doing a sport but you can count on me for watching! Surprisingly, the event was really fun. In the beginning, the committee suddenly showered us with color powder, hahaha, so we run in mix color!

4. April

  • April was mostly about study, and also we keep on practicing on our choir since we’ve already scheduled to some events in the near future.
  • We celebrated Kartini Day by wearing traditional costume, looking good, girls!

11905_10201021688692743_1955412584_n

5. May

  • Sekdilu 37 went to Surabaya! Yay! We got the chance to visit Madura as well and experience the famous Suramadu bridge, Bromo mountain, Sampurna house, KRI Dewaruci and also TKI training class. It will be hard to forget Surabaya since we had many memories and class performances!

602991_10151606792746897_411937434_n

  • Hey you! Happy bday my precious!

6. June

  • My favorite month in a year! June means birthday! And birthday means presents and surprise. Thank you all for the gifts and the cake and the mid-night lilies :*

946519_513354332052879_379399390_n

7. July

  • July was 2013 fasting month. And i went through it with my Sekdilu 37 fellow. I also sometimes spent my “ngabuburit” time by going to Bendungan Hilir market to find delicious snack and food.

8. August

  • I bought myself a new gadget. It feels nice spoiling yourself with your very own money after a long and tiring work.
  • Went back home to celebrate Eid Al Fitr with my family. One of my favorite holiday at all times.
  • Gita Bhuana choir was appointed to sing in the opening and closing 2nd Congress of Indonesian Diaspora in JCC Jakarta. We could see our president, minister of foreign affairs, and other very important people in extremely close distance.

9. September

  • Sekdilu 37 finally graduated! Our graduation ceremony was attended by Minister of Foreign Affairs, and what made me even happier, my mother and my brother managed to come as well in very short notice.
  • My brother’s birthday
  • Sekdilu 37 successfuly held Salam ASEAN in one of Jakarta most famous landmark, Monas! We also make a new world record as the longest ASEAN Handshake! Splendid!

10. October

  • In October, i was appointed to be Liason Officer for Peru for the APEC event in Bali. That was stunning. My knowledge before the APEC in escorting the high level was, lets say, zero. I was continuously asking about this and that. Fortunately, things were ended up perfectly. And i have no doubt in trying this again.
  • October also means abroad internship. And where is the perfect internship for young diplomat? Yep, you’re right, we were sent to the Indonesia representative office in four countries, Malaysia, Singapore, Saudi Arabia, and Lebanon. I was sent to Kuala Lumpur, Malaysia, with my other 9 colleagues.

11. November

  • Half of this month was still spent in Kuala Lumpur. One month internship was quite fast and hurry. I do wish the next batch will have at least 2 months internship abroad.
  • One of GenkGonk member, Riri, finally got married. So some of us flew to Malang to attend the birthday. Such a warm and bonding experience. It remained us how fast time flies. Happy wedding Riri!

1484153_579252398796405_1652168166_n

12. December

  • I celebrated new year eve with my friends in Jakarta. We marched to Bundaran HI with thousands of people. We then saw fireworks and exhibitions, not to mentions, the new media darling, the governor of Jakarta, Jokowi. That was fun!

Well, then, so we can bluntly conclude that almost most of my 2013 was about Sekdilu 37. But i also manage to spent time with my GenkGonk, and also my dearly cheri. Well, i guess it’s a wrap. I hope this year will bring joy, blessing, and happiness. 2014, bring it on!!!

Advertisements

Menggantang Asa Bersama Kemlu (part 2)

*ini adalah post lanjutan dari post sebelumnya tentang awal mula saya diterima di Kementrian Luar Negeri (Kemlu)*

479834_475084859213160_794899450_nPaska dinyatakan lulus seleksi administrasi, saya pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes tertulis di PRJ Kemayoran. Sesampainya saya di bandara, saya terkejut mendapati salah satu senior saya di bangku kuliah, Paulina, ternyata sedang berada di bandara juga untuk mengikuti tes Kemlu sama seperti saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menghampiri Paulina yang berada di terminal berbeda dengan saya. Ketika saya menaiki shuttle bus, saya mendengar nama saya dipanggil dan saya pun kembali terkejut melihat ada Ardhin, senior saya di kampus, yang juga akan ikut tes tertulis Kemlu. Merasa heran akan kebetulan tersebut, kami bertiga pun bersepakat untuk saling mengontak bila kami lolos ke tahapan-tahapan selanjutnya. Seleksi demi seleksi pun kami lewati, dan kami pun terus lolos hingga ke tahap terakhir. Malam sebelum tes wawancara substansi, kami bertiga berkumpul di kediaman Ardhin untuk belajar dan membahas isu terkini bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana kami mengkondisikan kamar layaknya suasana tes wawancara.

734973_470362719685374_413210043_n

Paulina, saya, dan Ardhin

Paska menghadapi rangkaian tes terakhir, panitia memberi tahu kami bahwa pengumuman hasil seleksi akan diberitahukan dua minggu dari hari tes. Mengingat tes diselenggarakan pada pertengahan November, kami pun berasumsi bahwa sebelum berganti bulan kami telah dapat mengetahui status kelulusan kami. Hari berganti hari, hampir setiap hari saya mengecek website Kemlu untuk melihat hasil kelulusan, namun berita bagus yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung hadir. Sekitar tiga minggu paska tes, saya dan Ardhin sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan di Yogya. Tiba-tiba saya mendapatkan pesan bahwa hasil ujian sudah dapat dilihat di website. Sontak saya memberitahu Ardhin dan kami berdua mengecek hasil bersama-sama. Ardhin pun memasukkan nomor registrasinya dan mendapati bahwa dirinya dinyatakan tidak lulus. Saya pun ikut lunglai setelah melihat bahwa saya juga tidak lulus. Kami berdua lalu terduduk lemas dan saling terdiam selama beberapa menit. Setelah berhasil berusaha tegar, kami mengontak teman-teman seperjuangan yang lain, ternyata tidak ada satupun dari mereka yang berhasil diterima di Kemlu. Hari berikutnya, saya mengirimkan email ke pusat saran Kemlu mengenai hasil akhir tersebut, betapa terkejutnya saya bahwa pemberitahuan status kelulusan itu tidak valid dikarenakan error dan kami para peserta seleksi diminta menunggu kembali.

Seminggu setelahnya, pada pukul 3 dini hari, saya pun iseng-iseng mengecek kembali website Kemlu. Ternyata pengumuman status kelulusan sudah terdapat disana. Saya memasukkan nomor registrasi sembari menutup layar laptop karena tidak berani melihat hasil yang sudah ada. Merasa konyol, sata pun membuka sedikit demi sedikit dan menemukan lima hruruf besar LULUS!! Saya pun segera memberitahu orangtua saya. Paginya, saya mengecek kabar Ardhin dan Paulina, ternyata mereka berdua pun lulus. Kami pun akhirnya mempersiapkan segala sesuatunya bersama-sama, bahkan kami memilih penerbangan yang berdekatan ketika kami harus hijrah ke Jakarta. Hingga sekarang, kami bertiga terus menjadi sahabat baik dan saling membantu dengan berbagai latar belakang ilmu yang kami miliki.

735197_454718584583121_721391047_n

semacam bedol desa

Diterima menjadi calon diplomat di Kemlu merupakan salah satu hal terbaik yang terjadi di hidup saya. Dengan gelar MBA yang saya punya, sebenarnya saya memiliki pilihan karir yang lebih beragam ketimbang bila saya hanya bergelar sarjana ilmu politik. Saya dapat saja menggunakan ilmu manajemen saya untuk berwiraswasta, melamar ke berbagai perusahaan multinasional atau berusaha untuk menggeluti karir di bidang perbankan. Sebelum diterima di Kemlu, saya sudah hampir diterima di dua bank BUMN terbesar di Indonesia, dan satu bank swasta di Indonesia. Salah satu pertimbangan saya dalam memilih Kemlu adalah keinginan saya sedari dulu untuk terlibat di dalam suatu institusi dimana saya akan dapat secara aktif mengenalkan Indonesia ke dunia internasional.

Ketika telah diterima menjadi Kemlu, saya harus menjalani pelatihan Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) selama 8 bulan dari bulan Februari hingga Oktober. Saat ini pelatihan telah berjalan hampir 4 bulan, selama ini kami yang berjumlah 59 diberi banyak materi yang berkaitan dengan isu domestik dan perkembangan luar negeri. Para pengajar yang didatangkan pun berasal dari berbagai bidang dan merupakan para ahli di bidangnya. Saya benar-benar harus menggali pengetahuan HI saya semasa kuliah S1 dahulu, seperti diplomasi, organisasi internasional, studi kawasan, dll. Kami pun dibekali tidak hanya substansi, namun juga tarian pergaulan internasional seperti jive, salsa, cha-cha, yang wajib dikuasai. Berbagai materi yang diberikan pun akhirnya membuat saya mengerti bahwa seorang diplomat memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam mengemban tugasnya. Sebagai seorang representasi dari Indonesia, diplomat yang handal harus mampu menampilkan dan menguasai citra terbaik Indonesia.

Saya percaya, segala sesuatu terjadi karena adanya rencana lebih besar dibaliknya. Bila saya diterima di Kemlu pada tahun 2009, saya tidak akan menjadi bagian dari Sekdilu 37 yang mengagumkan ini. Meskipun baru berjalan 4 bulan, saya sudah merasa bahwa mereka yang terdiri dari berbagai latar belakang dan daerah seluruh Indonesia adalah keluarga yang sengaja dipilihkan dan dipersiapkan untuk menemani saya mengarungi masa depan.

Menggantang Asa bersama Kemlu (part 1)

Memasuki Kementerian Luar Negeri (Kemlu) merupakan salah satu cita-cita saya sejak saya duduk di bangku SMA. Awalnya motivasi saya ingin bergabung dengan Kemlu adalah karena saya menganggap menjadi diplomat itu sesuatu yang keren dan susah ditaklukkan, sehingga membuat darah muda saya menggelegak. Namun seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa dengan menjadi diplomat, saya akan memiliki akses yang lebih terhadap Indonesia di luar negeri. Saya ingin mengubah persepsi masyarakat luar mengenai Indonesia. Meskipun kini Indonesia merupakan salah satu negara yang tengah berkibar, masih banyak pihak diluar sana yang menganggap Indonesia merupakan negara terbelakang, miskin, bar-bar, dan sarang teroris. Citra-citra negatif tentang Indonesia itulah yang ingin saya luruskan agar Indonesia dapat semakin dikenal dan diperhitungkan di kancah internasional.

Pada tahun 2009, selepas saya menyelesaikan pendidikan sarjana saya di Universitas Gadjah Mada, saya pun memutuskan untuk mengikuti seleksi Kemlu. Tahap demi tahap pun berhasil saya lewati. Saya pun merasa yakin dan percaya diri bahwa saya akan diterima di Kemlu. Namun, pada saat tes wawancara terakhir, saya mendadak blank dan tidak dapat menjawab pertanyaan pewawancara dengan baik, saya pun lebih banyak diam dan tersenyum ketika menerima pertanyaan. Seusai tes, saya pun melangkah keluar ruangan dengan gontai, saya percaya bahwa saya tidak akan lolos seleksi Kemlu dengan performa saya tadi. Benar saja, sebulan kemudian, saya mendapati bahwa saya tidak lulus seleksi. Fakta itu cukup menghantam saya dengan telak, namun akhirnya saya memutuskan untuk tidak berlama-lama bermuram durja. Setelah kontrak kerja saya di suatu lembaga bahasa inggris selesai, saya pun memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan S2 saya di MM UGM.

Setelah lulus dari MM UGM pada tahun 2012, saya pun mendaftar ke berbagai perusahaan dan instansi pemerintah, termasuk Kemlu. Kedua orang tua saya menyarankan saya untuk tidak kembali mencoba Kemlu mengingat kegagalan saya di tahun 2009 yang lalu. Keluarga dan orang-orang di sekitar saya mengatakan akan mustahil diterima di Kemlu bila kita tidak memiliki koneksi dengan orang dalam Kemlu. Pun bila ingin diterima di Kemlu, kami harus membayar sejumlah uang sebagai “tiket masuk”. Namun, saya tetap kembali mendaftar ke Kemlu sembari berjanji pada diri saya sendiri bahwa bila saya kembali gagal lolos pada seleksi kali ini, saya tidak akan mencoba mendaftar Kemlu lagi.

Pada awal-awal mengikuti tes, saya ingat betapa rempongnya persyaratan yang harus dibawa. Persiapan itu berhasil membuat saya dan keluarga saya (terutama mama) kelabakan. Persyaratan yang paling menguras tenaga adalah ketika kami harus membawa dokumen-dokumen seperti Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKCK), Kartu Kuning, dan Surat Keterangan Sehat dari dokter. Masih segar di ingatan saya ketika saya harus mengantri panjang demi mendapatkan ketiga surat sakti tersebut. Ternyata, yang mencari ketiga dokumen tersebut tidak hanya saya, banyak orang-orang lain yang berusaha mencarinya demi mencari pekerjaan. Bagi saya, pemenuhan persyaratan pendaftaran Kementerian Luar Negeri sudah merupakan proses seleksi mengingat banyaknya dokumen yang harus disertakan dan berbagai pernik-pernik tambahan lainnya. Oh ya, ada tips yang ingin saya berikan terkait pendaftaran dan printilannya, yaitu lengkapilah semua persyaratan yang diminta dan aturlah dokumen-dokumen tersebut sesuai urutan. Tidak perlu berimprovisasi dan menyertakan dokumen-dokumen yang tidak diminta. Salah satu teman saya menyertakan legalisir ijazahnya dari ketika dia SD hingga kuliah, padahal yang diminta hanyalah ijazah pendidikan terakhir saja. Cerita akhirnya pun dapat ditebak, teman saya itupun tidak lolos seleksi administrasi Kemlu. Tidak lolos suatu seleksi hanya karena hal-hal sepele dan tidak substantif itu cukup menyesakkan loh, oleh karena itu, tepati semua persyaratannya ya 🙂

Jejak Karir – ODP Bank Mandiri

Halo, halo, selamat pagi semuanyaaaa. Apa kabaar ? Pagi ini saya berencana ingin berbagi tentang pengalaman saya dalam mencari pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan itu tidak mudah, saya harus ikut tes di sana sini sampai akhirnya saya sekarang diterima di salah satu Kementerian di Indonesia. Kenapa saya tidak membuka usaha sendiri saja ? Jawabnya sederhana, saya ingin merasakan sendiri pahit manisnya bekerja. Tenang saja, opsi untuk berwiraswasta sudah ada di benak saya, bahkan, saya sudah tahu akan membuat usaha macam apa 🙂

Well, pengalaman yang ingin saya ceritakan sekarang adalah pengalaman ketika saya mengikuti seleksi Officer Development Program (ODP) Bank Mandiri. Saya mengikuti seleksi ini pada bulan Juli 2012 ketika ada job fair di kampus saya, dan saya sendiri ketika itu masih belum lulus dan masih harus berjibaku dengan tesis tersayang saya. Pertimbangan saya kala itu dalam mencari pekerjaan adalah saya memikirkan lamanya proses yang mungkin dibutuhkan dari melamar, tahapan seleksi, hingga diterima kedalam suatu perusahaan. Alangkah menyenangkannya jika kita sudah lulus kuliah, kita tidak perlu repot-repot lagi mencari pekerjaan 😀  Nah, tahapan seleksi ODP Bank Mandiri ini cukup banyak, sekitar 6 tahapan, dan berikut penjelasannya:

  • Seleksi Administrasi

Seleksi administrasi atau seleksi berkas untuk Bank Mandiri terbilang cukup sederhana. Kita tidak perlu membawa-bawa CV dan salinan ijazah atau transkrip nilai. Karena saya mendaftar ODP Bank Mandiri ini melalui job fair, saya cukup mendatangi booth Bank Mandiri dan mengisi formulir yang sudah disediakan, serta menempelkan pas foto di formulir tersebut. Dari selentingan-selentingan kabar yang saya dengar, Bank Mandiri akan memprioritaskan orang-orang yang sebelumnya belum pernah mendaftar ODP Bank Mandiri, untuk yang pernah mengikuti seleksi ODP Bank Mandiri dan gagal, sepertinya ada jeda waktu sebelum kita dapat mendaftar ODP Bank Mandiri lagi, sayangnya saya kurang tahu tepatnya berapa lama.

  • Walk-in Interview

Setelah lolos seleksi administrasi (hasil seleksi administrasi akan langsung diberitahukan sore atau malam harinya), keesokan harinya kita akan mengikuti walk-in interview. Wawancara awal ini dilakukan langsung oleh HRD Bank Mandiri. Seingat saya ada tiga orang pewawancara, dan setiap pewawancara akan mewawancarai lima orang. Wawancara ini akan dilakukan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan yang akan diajukan pun standar, berkisar tentang aktifitas kita sehari-hari, dan berdasar dari formulir yang kita isi hari sebelumnya. Hasil dari walk-in interview akan diumumkan pada hari itu juga.

  • Tes TOEFL

Tahapan selanjutnya setelah walk-in interview adalah tes TOEFL. Ketika itu tes TOEFL dilaksanakan di Fakultas Ilmu Budaya UGM. TOEFL yang diujikan pun bukan TOEFL Like melainkan TOEFL ITP. Sebenarnya saya masih memiliki sertifikat TOEFL ITP yang masih berlaku, akan tetapi Bank Mandiri tetap mewajibkan semua peserta yang lolos untuk mengikuti tes TOEFL tersebut. Bagi yang sudah pernah mengikuti tes TOEFL pasti akan tahu dan bisa mengerjakan

  • Tes Aptitude

Naaah, ketika saya diumumkan lolos ke tahap tes aptitude, saya bingung karena saya sama sekali tidak tahu seperti apa tes aptitude itu. Untungnya, dalam pesan singkat yang dikirim oleh Bank Mandiri, disertakan pula alamat website www.shl.com, yang disitu terdapat model-model soal dalam tes aptitude. Saran saya, banyak-banyaklah berlatih dan mencoba mengerjakan contoh-contoh soal tersebut. Untuk soal-soal hitungan, karena waktu untuk mengerjakan terbatas, soal-soal tidak perlu dikerjakan semuanya, kerjakan saja dari yang termudah dahulu dan yang paling yakin benar.

  • Leaderless Group Discussion (LGD)

Setalah berselang seminggu, saya mendapat kabar bahwa saya lolos untuk mengikuti LGD Bank Mandiri. LGD ini dilaksanakan di kantor Bank Mandiri di Jalan Sudirman. Dari hasil bertanya kepada teman-teman yang sudah pernah mengikuti tes ini, kita akan diberikan kasus yang harus dipecahkan bersama-sama dengan kelompok. Ketika LGD saya berperan sebagai semacam sekretaris dan menulis hasil-hasil diskusi di papan yang terdapat di bagian depan. Seusai LGD, saya merasa bahwa saya tidak memberikan upaya yang maksimal dalam LGD tersebut.

Sekitar tiga hari dari LGD, saya dihubungi oleh rekan seperjuangan ODP Bank Mandiri. Ternyata dia sudah mendapat telepon dari Bank Mandiri yang memintanya untuk mengikuti medical check-up. Seharian saya menunggu dan menatap telepon saya namun nihil. Saya pun sadar saya tidak lolos. Perjuangan saya di seleksi ODP Mandiri terhenti di tahap LGD. Waaah, cukup sedih lho rasanyaa, mengingat tahapan yang tersisa tinggal medical check-up dan wawancara direksi. Setelah itu langsung tanda tangan kontrak. Tapi ya sudahlah, mungkin rejeki saya bukan di Bank Mandiri. Buat yang sedang cari kerja, jangan patah semangat yaaa. Kalau gagal coba lagi, terus dan terus. Kesuksesan seseorang itu tidak diukur dari seberapa sering dia gagal, tapi seberapa sering dia berhasil untuk bangkit lagi (saya lupa ini kutipan dari siapa). Sukses semuanyaaaa…