Beach Girl Adventure. Le Touquet Paris-Plage. September 2011.

Morning pretty peeps, how are you ? 2013 is getting closer and the fact that we succeed in surviving the Mayan apocalypse was such like an achievement, wasn’t it? I personally can’t wait for 2013. I have plenty of new year resolutions which need to be done soon. One of those resolutions is to write more often 😀 Wish me luck then, fellas. Anyway, today’s post is about my adventure in finding beach in France. When I arrived in France (September 5, 2011), the weather was still sunny enough. That was surprising. This weather anomaly was happened until October if I recall. Since I still missed Indonesian heat, I asked to my friends about the nearest beach in Lille. One of them, David, answered that he already did some research and found a nice beach in Le Touquet. It was about 150 km from Lille. My adventure mood suddenly sneaked out. We (me, Alajandra, Natalia, David and Aaron) then prepared for our little trip.

P1010014

Since David brought his car from Germany, we then didn’t have to worry about our transportation to Le Touquet. What we have to do was only shared the gasoline. We spent about four hours in the road. The trip there was ah-ma-zing. As a person who often fell asleep in a trip, I didn’t have to force myself to keep my eyes open at that time. The view was relieving; the chat in the car was also fun. We sang many songs, from the top 40 list to the lamest one. We arrived in Le Touquet at around 4 pm. We then went to our cottage (damn, I forgot the name of the cottage). It was really nice cottage. The design was dominated by wood and it was only 5 minutes walk to the beach.

166898_226951727359809_452243895_n

299872_227681907286791_1217221346_n

Sooo, how’s the beach? The name’s Le Touquet Paris-Plage. I have no idea why they attached Paris there, since Le Touquet is closer to Lille than Paris. The beach was fine. It was quite long and big. There were a lot of people in bikinis and tried to suck the last summer sunshine in the beach. I can’t blame them, they’d meet summer again in about eight months! Too long!! Well, compared to the beaches in Bali or Yogyakarta, Le Touquet is more, errrr, hot? Ahahahha, you better watch the photos below to get better description. Enjoy!!!

IMG01887-20111001-1356

i’m the flip-flop keeper, LOL

300717_226951324026516_1532345743_n 308408_227124940675821_1781455049_n

Good Lord, i finally could experience beach sunset!! 

P1010043 P1010045 P1010046 P1010061

Do you know what i love the most from this picture? My awesome hair, hahaha

P1010099 P1010120

morning escape, feeling the sand, wind, and the grass. That simple 🙂

P1010121 P1010161

birdie birdie in the sea, thanks for the warm greeting

P1010174

Advertisements

Pembelajaran dan Pendewasaan

Perjalanan saya ke Eropa selama 5 bulan membawa banyak perubahan pada diri saya. Berasal dari keluarga yang konservatif dan orangtua yang kelewat protektif membuat mereka khawatir ketika akan mengizinkan saya pergi keluar negeri seorang diri. Tapi ya, keteguhan niat saya sudah tidak bisa dibendung lagi, berbagai nasihat pun diberikan menjelang kepergian saya.

Setibanya saya di Perancis, saya sudah merasakan jiwa petualang saya menyeruak kembali ke permukaan. Perasaan ingin tahu dan ingin mencoba ini itu rasanya hampir tak tertahankan. Saya tidak sempat merasa kesepian dengan absennya mahasiswa Indonesia di kampus saya, SKEMA Business School, mengingat akan merupakan suatu kesia-siaan bila saya hanya mengunci diri di dalam kamar. Di Perancis, perlahan-lahan saya berusaha meninggalkan sifat khas orang Asia yang cenderung kolektif dan melakukan hampir semua aktifitas bersama-sama. Saya menjadi lebih individualis yang berusaha sesedikit mungkin bergantung pada orang lain. Saya ingin mandiri.

Setiap hari adalah petualangan. Selalu ada pengalaman baru yang saya dapatkan. Tidak melulu bagus, terkadang juga saya mengalami peristiwa yang membuat saya sedih, miris, galau, tapi saya bertekad untuk tidak berlarut-larut dalam segala bentuk kesedihan karena demi Tuhan, saya sedang di Perancis, negara impian puluhan juta orang, dan daripada saya menggalau, oh, masih ada banyak orang yang rela bertukar tempat dengan saya. Saya berusaha meyakini segala sesuatu pasti terjadi karena sebuah alasan. Yeaaa, I became so positive there, in France.

Pelan tapi pasti, saya menjadi lebih berani dari hari ke hari. Saya gemar menyusuri jalan-jalan di kota saya, Lille, untuk melihat dan mengenal sekeliling, berhenti di salah satu anak tangga di teras sebuah bangunan tua hanya untuk menyesap air minum dan melahap crepes, atau mungkin hanya duduk mematung sambil melihat orang berlalu lalang. Apakah saya tidak takut hilang atau tersasar? Oho, jangan salah, saya adalah orang yang buta arah, tidak dapat membedakan mana utara selatan, layanan Blackberry saya pun tidak saya aktifkan disana sehingga saya hanya mengandalkan hape tua saya yang tidak dilengkapi layanan internet bila saya tersasar. Pernah suatu waktu ketika saya sedang di Metro (kereta bawah tanah di Perancis) saya berulangkali mengecek dengan gugup apakah saya sudah menuju arah yang benar. Tapi saya berusaha untuk tampil (sok) tenang agar penumpang lain tidak melilhat kegugupan saya. Lega rasanya ketika bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Kadar keberanian dan kepercayaan diri saya meningkat dengan ajaib di bulan kedua saya di Perancis. Hal itu dipicu dengan telah terbitnya Residence Permit saya yang mengizinkan saya untuk berkeliling negara Eropa dengan aman. Sekedar informasi, untuk orang yang akan tinggal di Perancis lebih dari 3 bulan, diwajibkan untuk membuat Residence Permit ini, jika anda berniat tinggal kurang dari 2 bulan, cukuplah mendaftar visa Schengen saja.

Residence permit sudah di tangan, saya pun memulai perjalanan berkeliling Eropa untuk mengunjungi teman-teman saya yang tersebar di sana. Hampir di setiap perjalanan saya selalu pergi sendiri, tetapi pasti sudah ada tim penyambut di negara yang saya tuju. Bepergian sendiri membuka banyak perspektif baru dalam diri saya. Masih segar dalam ingatan saya, ketika saya harus berlari kesetanan untuk mengejar shuttle bus yang sudah akan berangkat. Setibanya di dekat bus saya pun mengetuk pintu bus dengan muka memelas dan nafas memburu, untung saja si pengemudi membukakan pintu bus dan mempersilahkan saya masuk. Di dalam bus saya tertawa tertahan mengingat aksi konyol yang saya lakukan sebelumnya. Saya, si gadis mungil dengan tinggi tak sampai 155cm berlari-lari menggebah pejalan kaki lainnya sambil menyeret koper demi dapat mengejar shuttle bus ke arah bandara.

Peristiwa paling menakjubkan yang mengubah pola pikir saya terjadi pada bulan Januari 2012, ketika saya akan melakukan perjalanan ke Swedia. Saya menggunakan maskapai penerbangan murah, Ryan Air, yang mengharuskan saya untuk berangkat dari bandara Charlesroi di Brussels, Belgia pada jam 7 pagi. Tunggu sebentar, saya ada Perancis, tapi kenapa saya berangkat dari Belgia? Well, begitulah Ryan Air, tidak semua negara mempunyai penerbangan yang sama. Bila saya ingin ke Swedia dari Perancis, saya harus ke Paris terlebih dahulu. Dan bandara di Paris yang digunakan oleh Ryan Air bukanlah bandara utama Charles de Gaulle yang terletak di kota, melainkan bandara Bauvais yg terletak di pelosok Paris. Biaya yang saya gunakan dari Lille ke Paris Bauvais bisa saja lebih mahal dari tiket saya ke Swedia. Jadilah saya memutuskan terbang dari Brussels yang tidak jauh dari Lille.

Ketika melihat jadwal kereta pagi, saya baru sadar bahwa saya tidak akan mungkin dapat mengejar ke bandara. Kereta paling pagi berangkat sekitar pukul 6 dan akan sampai di Brussels pada pukul 7. Padahal saya harus sudah ada di bandara satu jam sebelumnya untuk mengurus tetek bengek di bandara. Jadilah saya mengambil kereta paling malam ke Charlesroi dan memutuskan untuk menghabiskan malam di stasiun kereta sambil menyesap susu hangat (saya bukan penikmat kopi) dan membaca majalah di salah satu kafe di stasiun Charlesroi.

Kereta yang saya tumpangi dari Lille amat sangat sepi. Hanya ada 3 orang di gerbong yang saya naiki, dan bisa ditebak, sayalah satu-satunya perempuan di gerbong itu. Ketika kondektur kereta datang dan memeriksa karcis saya, saya meminta agar saya diperingatkan ketika saya akan sampai di tempat tujuan, tak dinyana seorang bapak di gerbong tersebut ternyata juga akan turun di tempat yang sama. Berkali-kali saya menjaga diri agar tidak terlelap dan kebablasan pemberhentian. Saya terus menerus berusaha melihat keluar setiap kali kereta berhenti untuk menghitung berapa pemberhentian lagi sebelum tujuan saya.

Pukul 23.45 saya tiba di stasiun kereta Charlesroi bersama sekitar 6 penumpang yang lain (termasuk si bapak baik hati yang membantu menurunkan koper saya). Saya pun melongo melihat stasiun yang gelap dan kosong melompong tanpa ada toko atau kafe yang buka. Penumpang-penumpang lain yang tadi turun bersama saya bergegas keluar stasiun, saya pun mengikuti mereka sembari setengah berharap saya akan menemukan salah satu penumpang yang berniat menghabiskan malam di stasiun, ternyata harapan saya itu tidak terkabul. Saya mengecek jadwal bis selanjutnya yang akan membawa saya ke bandara, ternyata bis baru akan tersedia pukul 5 pagi. Kepanikan mulai menggelegak, saya mencegat salah satu petugas stasiun dan bertanya apakah ada hotel atau kafe atau restoran yang buka di dekat stasiun, dengan mata menyipit dan melihat jam tangannya beliau pun berkata “je crois que non mademoiselle, le gare sera ouvert a 04h00” – saya rasa tidak ada nona, stasiun ini akan buka kembali nanti pada pukul 4—dan si petugas tadi pun berlalu meninggalkan saya seorang diri.

Saya melihat sekeliling dengan bingung dan panik, berbagai macam cerita kejahatan seperti perampokan, pembunuhan dan perkosaan berputar di kepala saya. Saya pun akhirnya memutuskan duduk di anak tangga yang tersembunyi dan paling dekat dengan kamera pengawas untuk menghindari tindak kejahatan yang mungkin terjadi. Saya bisa saja ke bandara naik taksi, namun setelah mengintip dan melihat sopir-sopir taksi berwajah seram, saya pun memutuskan menunggu pagi di stasiun. Sendirian.

Waktu 4 jam terasa berlalu sangat lambat. Untung saja saya membawa buku bacaan untuk menjaga saya tetap waras selama penantian yang terasa berabad abad. Rasa kantuk di kereta mendadak hilang digantikan adrenalin yang memaksa saya untuk terus waspada. Saya pun berusaha berkirim pesan kepada teman-teman saya di Indonesia, dengan asumsi mereka sudah bangun karena saya yakin saat itu sudah pagi di Indonesia. Sayang sekali hanya sedikit yang membalas dan bertukar pesan dengan saya. Saya pun hanya ditemani sebuah novel dan bunyi kereta yang melintas di stasiun. Setiap 45 menit sekali saya bangkit dan berjalan-jalan sekedar untuk melemaskan kaki. Rasanya saya sudah membaca habis semua iklan dan jadwal keberangkatan kereta di papan pengumuman kala itu.

Pukul 2 pagi, saya mendengar langkah kaki mendekat, saya pun merapatkan diri ke tembok tempat saya bersembunyi, sambil mengintip sedikit demi sedikit, ternyata itu adalah tukang Koran yang meletakkan korannya di stasiun. Kepala saya pun muncul dari balik tembok ketika saya menyapa si loper koran. ‘Bonjour’ sapa saya dengan senang melihat adanya tanda-tanda kehidupan. Si loper koran pun terkejut melihat kehadiran saya dengan pakaian ala gadis eskimo, lengkap dengan penutup telinga saya. Dia pun bertanya apa yang saya lakukan di stasiun pada pukul 2 pagi, ketika saya menjawab saya menunggu bis ke bandara, dia membalas memandang saya dengan iba, dia pun mengajak saya untuk berkeliling stasiun guna mengedarkan koran-koran. Dengan halus saya menolak, bukan karena saya takut, tapi saya membawa koper yang akan merepotkan untuk naik turun tangga. Si loper koran pun berlalu setelah meminta saya berhati-hati dalam menunggu pagi.

bersama Vidya di Jonkoping, Swedia

 Pukul 4 pagi pun akhirnya tiba juga, hati saya membengkak dua kali lipat ukuran aslinya melihat televisi layar datar yang berisi jadwal keberangkatan mulai menyala. Perlahan tapi pasti, saya membereskan ‘markas’ saya dan menuju ke pintu stasiun untuk menunggu bis yang akan mengantar saya ke bandara. Di halte bis saya melihat orang-orang yang diturunkan oleh keluarganya untuk menunggu bis ke bandara. Saya pun menyunggingkan seulas senyum kepada mereka karena saya merasa sangat bangga bisa bertahan seorang diri di stasiun selama 4 jam. Pelajaran yang dapat saya petik adalah stasiun di Eropa itu tidak sama dengan di Indonesia yang meskipun tidak buka 24 jam, tetapi akses ke peradaban sangat melimpah. Saya tidak mau lagi menginap di stasiun di Eropa 😀

Sani, si panitia penyambut

Hidup di negeri orang tidak melulu susah. Memang benar kata pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita harus pintar beradaptasi dan berpikiran terbuka. Saya masih menyimpan banyak kisah life-changing ketika saya di Eropa. Mungkin saya akan membaginya di lain kesempatan kepada para pembaca. Oh, sekedar ingin tahu, apakah anda menyukai gaya menulis saya dalam bahasa Indonesia? Mengingat saya lebih banyak memposting dalam bahasa Inggris. Terima kasih, selamat berhari Senin semuanyaaa J

Champion League, an unforgettable moment

PS: This draft was made 11 months ago

Yooo, what’s up readers? Here i am, still in Lille, France, in the middle of freezing month. Currently , i am waiting for the snow now. Please do not simply blame me, i never see snow before. So, i am in the middle of dilemma now, between my curiosity in seeing snow and my ability to face the freezing temperature. Well, while waiting for the snow, i want to share something extremely cool that i experience in October.

So, in my university, SKEMA Business School, it has a lot of student clubs which provide the students many interesting activities, from the cooking club till the sport club thingy. I do not join in any of that clubs but if there was an event thrown by a club i mostly attend that event. One day, when i was opening my facebook, i saw the sport club posted in the exchange student group. They invited us, the exchange students, to join them to watch the Champion League live. The match was between Inter Milan and Lille Football Club which held in Lille. Wow, how would i resist that kind of opportunity? So, yeah, i just simply signed myself in.

The next thing i know that in the next day, i paid the ticket (which cost 50 Euro, that the cheapest one though) and wait for a week to see the match. Finally, that day came. I would not forget the date. 18 October 2010. We gathered first in the uni at 7 pm. There were like 20 of us, and there were only 3 girls including me. Since the stadium was quite far, we had to take the metro (subway). In our way to the stadium, there were a lot of football supporters inside the metro, started to sing the club anthem. I was so excited. Yeaaah, i was in the game mood at that time. The, after passed 6 metro stops, we got of at Pont de Bois metro station and walked for about 10 minutes, and here i was, in Stadium Lille Metropole, surrounded by thousand of Lille supporters. Aaaaargh, i couldn’t stop smiling at that time.

After wait for about 15 minutes, we finally entered the stadium and waiting impatiently for the match begun. I got a seat behind the gate. Surprisingly, i sat next to my Indonesian buddy which i met during my flight from Jakarta to Paris. Wow, what a coincidence. We chatted, took tens of pictures and tadaaaaaaa, the two teams entered the stadium. Woooow, i never watch a football match live from the stadium and at that moment, i felt such that kind of feeling. It was beyond enthusiastic. Unexplainable 😀

Well, i could not remember a lot about the game. But unfortunately, the host team, LOSC, lost 1-0 to the guest team. That was a bit sad. Since i watched the match with my local friends, i knew how frustrated they were during the match. There were some good opportunities wasted by the host team.

The match ended at 10.45pm, the Lille supporters were a bit dissatisfied, but at least their team only lost 1-0. Briefly, i was really happy that day. One of my dream to see Champion League live was finally come true. It was such a priceless experience that i will never regret. So, do you have any wonderful unforgettable moment? Go share with me!!!

Me and Walking Culture

PS: This draft was made one year ago

heey my dear readers, what you’ve been up to this far? here i am, still here in Lille, France. I will return to Indonesia next year. My return ticket there supposed to be in January, but i am thinking to extend my stay here. Well, in this occasion, i would like to share about the walking culture that i experience here, in Lille.

Since the first day i arrived here, i still can not fit with the walking culture possessed by the people here. They do love walking. In Indonesia, we are not a big fan of walking, we prefer to take the motorcycle or car to walk. Being raised in that circumstances make me face inevitable situation in Lille. The first day after i got off from the train, i had to walk a lot. I walked like two hour non-stop in total. Well maybe for you guys it wasn’t a big deal, but for me, i never walk that much before. Soon after i reached my apartment, i took off my shoes and sunk in my bed.

My flatmates are from Colombia and Finland. Apparently, they both like walking as well. My first trip with them was quite embarrassing for me. I was almost always left behind. They walked too fast for me, and to make it more juicy, my feet were bruised and blistered everywhere. During the first month, i had a very deep relationship with the plaster in my feet.

As the time goes by, my situation were getting better. Although i haven’t able to walk in the same speed like the native, at least my feet start to adapt my walking habit that i tried to build here, bud sadly, this rule did not apply with my shoes. Only two weeks after my arrival, i had to replace my old shoes. Yeaaah, they were broken, hahahha.. The new shoes that i bought hopefully will be able to survive longer than the old one.

Now, i found myself more tough in term of walking. With the flat shoes, i am capable to walk down the street, beach, park or anywhere for hours with less complain. But i feel that my only flat shoes are getting uncomfortable. Geeez, i truly need to invest on comfy shoes, otherwise the plaster invasion will be repeated 😀

Lille, une belle ville

PS: This draft was made one year ago

Dear readers, how are you? I am in France now. I can’t tell you precisely how exited i am here. I’ve been dreaming to come here since i was in senior high school. The wait was seemed like forever, but it’s worth the wait. Ok, let me share you about what i’m gonna do here in France.

Three months ago, I assigned for student exchange program in my hometown university, actually there were several choices about the exchange destination, such as Austria, Germany, Netherlands, Scotland. Japan, Singapore and Malaysia. I did not have hard time to choose which university cuz as i told you previously that France already haunted me for years 😀

enfiiin….

After being occupied with all the administrative requirements and visa matter, i finally left Indonesia at September 4, 2011. Hmmm, it was stated that the flight would be about 15 hours, including two hours transit in Changi airport, Singapore, but unfortunately, there were some problems with the aircraft which made me stay longer in Changi. I made my touchdown in Charles de Gaulle airport at 11am and after i took a TGV to Lille.

Here, i don’t live in Paris, but in Lille, located in the northern part of France. I remembered the first day i arrived here. I was so shocked with the weather. Oh please don’t simply blame me. Will you expect the sunshine, rain and wind in a day? Yeaah, that was happened to me, hahahha. Well now i already learn that no matter how sunny outside, you never go wrong by prepare a scarf or umbrella in your bag before leaving your apartment.

Nathalia, Alejandra and me ^^

Talking about apartment, i share a flat with two girls. They were from Colombia and Finland. They were so nice and sweet. I do love them and my flat. Until now, i just can not believe my luck in getting this flat. It’s located in the center of the city, i only need to walk (Gosh, please remind me that i have to tell you about the walking culture in Europe) for 10 minutes to get to my university, and the best part is that i got a very good price. You have to see the looks of my friends when they know about my flat 🙂

The rooms and the kitchen

Well, there are still a lot of things that i wanna share, literally. No worries, i’ll be back in a jiffy 😀 Have a good day for you all…

Lots of love..

Dewy